Write to express. Express to release. Release to relieve.

Latest

Jason Truby.

Beberapa tahun lalu aku pernah punya mimpi: ingin bertemu, atau setidaknya berinteraksi dengan Jason Truby. Dia adalah gitaris P.O.D waktu itu (sekarang sudah keluar) dan salah satu musisi favoritku.

Selain ganteng (tentu saja!) aku juga suka dia karena gayanya cool, kepribadiannya juga baik (dan relijius!). Tekhnik permainan gitarnya pun sangat bagus. Klop-lah.

Aku bermimpi, walaupun itu lebih tepat disebut angan-angan sebenarnya, ingin “dekat” dengan Jason Truby—sampai nama belakangku pun pernah kuganti dengan Truby saking kemaruknya. Hahaha…

Tapi, itu adalah mimpi yang tidak mungkin waktu itu. Mendekati absurd malah. Selain belum ada Facebook, internet juga masih jadi komoditi langka. Belum populer. Sehingga satu-satunya akses untuk “berhubungan” dengan idolamu hanyalah dengan menikmati karya-karyanya saja. Lalu melihatnya dari jauh. Hahaha… Begitulah. Tidak mungkin. Apalagi aku juga masih belum jadi apa-apa (a.k.a masih sekolah) dan belum tau mau menjadi apa di masa depan. Jadi semakin terasa tidak mungkinlah mimpi itu.

 

Beberapa jam lalu, kemarin malam, aku melihat Jason Truby sedang online dari status baru yang dia buat. Oh ya, aku sudah “berteman” dengan dia sekarang. Walaupun cuma dalam sebuah sosial media. Tapi itu lebih tepat kalau dikatakan pertemanan satu arah sebenarnya, karena apa yang pernah aku tulis, komentari, pesan atau apapun yang aku kirim ke sosial media-nya seringkali tidak pernah direspon. He’s still an international and famous musician who has loaded jobs and schedules, remember? Jadi, yah, aku maklum saja. Dia punya segudang aktifitas dan jadwal, jadi mana mungkin dia sempat-sempatnya memperhatikan apa yang orang-orang tuliskan atau kirimkan pada “hanya sebuah sosial media” miliknya. Lagipula aku tidak terlalu mengharapkan responnya juga. Seperti, ‘yang penting sudah aku bilang. Mau ditanggepin atau enggak, terserah.’ Seperti itulah.

 

Di status barunya itulah, aku pun kemudian iseng-iseng memberi komentar. Seperti biasa. Iseng-iseng. Tanpa mengharapkan balasan balik. Tapi, secara mengejutkan (bahkan sampai hari ini aku masih surprised mengingat kejadian tadi malam), Jason Truby justru membalas komentarku. Dan kami lalu saling berbalas komentar, sehingga terlihat seperti sedang mengobrol. Lucunya, dia hanya membalas komentarku saja—komentar orang lain tidak.

 

Tentu saja aku senang sekali! WOW! That’s really unbelievable. Di akhir “pembicaraan” akhirnya aku pun mengajukan permintaan mewawancarainya untuk majalahku kerja. Apa lagi? Hehehe… Yang membuat semakin senang adalah ternyata dia juga mengiyakan. Wow…

 

Malam tadi, aku teringat mimpiku beberapa tahun lalu itu. Mimpi yan mungkin sempat terlupakan. Aku pernah menyatakan mimpi itu sama Tuhan dulu. Tapi cukup di dalam hati saja, karena kalau aku memberitahukannya kepada teman-temanku, mereka mungkin akan menertawakan dan menganggap aku cuma tau bermimpi.

Tapi sekarang aku jadi percaya, ketika kau punya mimpi maka Tuhan akan menyimpan dan mencatat mimpimu itu. Lalu DIA akan membantumu mewujudkannya, di saat yang tepat. I dream, I believe and trying to make it happen! (Tanpa bermaksud ikut-ikutan Agnes Monica.. Hehehe…)

Jason Truby

Room in Rome

Well, cuma orang bodoh yang menganggap Room in Rome film porno atau film semi. They don’t know, what the real  intent of the movie’s story is.

Ada banyak sekali metafora, filosofi, pandangan hidup, isu feminisme dan (pelajaran tentang) seni di film itu. Ceritanya pun cukup berat dan kompleks sebenarnya, kalau mau mengikuti dialog antara Alba dan Natasha.

Pengambilan gambar dan cinematography-nya, nurut gw, artistik. Nyeni. Jadi tidak ada konten pornografi di dalam film itu—kecuali kau orang bodoh yang cuma memperhatikan bagian telanjang-telanjang dan having sex-nya doang.

Pun, adegan itu diambil dengan camera-view yang sangat artistik. Jadi kesannya indah. Seperti hasil karya seniman-seniman di era Renaissans.

Kalau bilang adegan itu porno, coba bandingkan sama film porno beneran. Sama ga tekhnik pengambilan gambarnya? Film porno itu vulgar, men! VULGAR!! Film porno itu sama sekali ga ada seni-seninya. Sama sekali ga ada indah-indahnya! (Menjijikkan, iya!) Sementara, Room in Rome itu full of the touch of arts – lah nurut gw.

Satu lagi, soundtrack-nya juga oke. Dari film itu gw jadi kenal siapa Russian Red. Dan menjadi suka dengan dia sekarang.

 

Loving Strangers.

Beautiful Dream.

Tadi malam, aku bermimpi indah sekali.

Aku bertemu Guy Berryman.

Aku tidak tau bagaimana-awalnya-dan-kenapa-bisa-jadi-seperti -itu, yang jelas, di mimpi itu aku sudah berada dalam situasi: Guy Berryman sedang dalam semacam press conference dan aku juga berada di acara itu untuk liputan.

Aku melihat dia di sudut ruangan, sedang duduk berdampingan dengan kak Eka, Managing Editor-ku (ngapain sih kak Eka ikut-ikutan masuk ke mimpiku?!) dan dengan para jurnalis yang lain.

Mereka, termasuk kak Eka, sibuk meminta foto bareng dengan Guy Berryman dan dia melayani permintaan mereka dengan cukup sopan.

Tentu saja aku tidak mau ketinggalan.

Lalu aku mendekatinya juga, “May I take pictures with you?” tanyaku bersemangat.

“Sure!” jawabnya. Lalu aku segera memberi tanda kepada kak Eka untuk mengambil foto kami berdua dengan BlackBerry milik kak Eka (karena aku tidak membawa kamera).

Lalu Guy mulai merangkulku dekat. Anehnya, ia tidak melakukan itu ketika foto bareng dengan kak Eka atau jurnalis yang lain tadi. Hahaha…

Sekali, dua kali… ahh, ternyata ada kesalahan sama Blackberry kak Eka. “Gambarnya goyang,” kata kak Eka. “Ulang deh!”

Dengan sabar Guy masih merangkulku. Kali ini semakin erat.

Jepretan ketiga. Berhasil. “Ehh, tapi rambutmu agak berantakan tuh Lin,” kata kak Eka lagi.

Aduuh.. gimana sih? Ga enak loh… ngerepotin artis terkenal lama-lama begini. (◡_________◡!!)

“I’m sorry. Just once more, okay?” kataku kepada Guy berharap ia bersabar. “Okay, no problem,” jawabnya lagi. Tangannya masih melingkar di pundakku. (Aduuuuuuhhhhhhhh………..  mimisaaann!!)

Kak Eka bersiap-siap untuk mengambil gambar lagi. Yang bikin aku deg-degan adalah, kali ini Guy Berryman malah mendekatkan wajahnya ke arahku. Ehh… mau ngapain dia??

Ternyata dia mencium… pipiku.

 

Click. Jepretan berhasil.

Aku memakai baju ini di dalam mimpi tadi malam.

Hahaha… senang? Tentu saja!! Sampai sekarang pun aku masih terkenang-kenang akan mimpi itu. Karena rasanya begitu nyata sekali. When he hugged me, when he kissed my cheek … it feels so real that I can feel it even after the dream is over.

“Thank you, sir. I like you so much!” kataku berterima kasih setelah ia meladeni permintaanku. Setelah itu kami, aku dan Guy, sempat berbincang beberapa lama. Tentang album barunya, Mylo Xyloto versi Live Concert (hey! Tentu saja album itu hanya ada di dalam mimpi. Hehehe…), tentang Coldplay, dan aku juga bahkan sempat mewawancarainya untuk Star Trap. Hahaha… Selama perbincangan itu, rasanya kami dekaaatt… sekali. Seperti mengobrol dengan teman. (Atau kekasih? :p)

Lalu aku mempamitinya sekali lagi. “Thank you so much, sir,” kataku sebelum melanjutkan liputan. Sebenarnya itu juga salah satu ‘ilmu andalan’ ku sih. Biar terkesan cool. Jadi aku cabut aja duluan… pura-pura ga peduli gitu. Padahal… huaaaaaaa…. Terkaing-kaing setengah modar. Hahaha…

“Hey! Don’t call me sir!” kata Guy Berryman lagi. Tersenyum. Menutup mimpiku dengan indah.

Hahahaha….. yah. Aku sangat senang sekali. Seperti kubilang, I don’t know, mimpi itu terasa nyata sekali. Sehingga aku langsung terbangun setelah itu dan melirik jam ku. Jam 4 pagi. Hmm…

Lalu aku teringat permintaanku kepada Tuhan sebelum jatuh tidur tadi malam, “Tuhan, malam ini aku ingin bermimpi indah. Tolong kirimkan Guy Berryman masuk ke dalam mimpiku ya… Amin.”

“Orang tua” yang pengen Kawin

Beginilah ‘nasib’ tinggal di tengah orang-orang yang pemikirannya masih kolot. Tinggal diantara teman atau keluarga yang pemikirannya masih belum maju. Lucunya, cara mereka berpakaian atau bagaimana mereka terlihat justru sangat maju. Sangat maju ketimbang aku yang terkesan kampungan malah. Tapi, ahh entahlah. Kalau Tika bilang, kontradiksi babi! Hahaha…

Awalnya aku tak peduli. Tapi lama-lama gerah juga. Sampai-sampai aku berpikir ingin memisahkan diri saja. Mengasingkan diri dan menjadi asing lalu bebas menjadi aku di tengah-tengah orang yang mungkin berpikir seperti aku. Keluar. Tidak di sini.

Makanya kubilang lucu kontradiksi ini. Tapi juga memuakkan.

Aku benci orang-orang yang sok tua (padahal umurnya saja baru seusia jagung) lalu sok berfilosofi tentang “umur” atau pandangan hidup. Padaku. Oh ya? Memangnya kau sudah paling berpengalaman ya dalam hidup? Aristoteles? Sokrates? Lewaaattt!!

Aku benci, orang-orang yang sok “menua-nuakan” dirinya dengan meniru cara orang-orang tua berbicara atau memandang hidup. Meniru! Tapi mereka sendiri mungkin tidak tau apa arti hidup sebenarnya.

Mungkin, inilah kelemahan (dan mungkin juga kebodohan) orang-orang yang sekarang aku tinggal di tengahnya. Mereka tidak tau bagaimana cara menjadi tua dan dewasa dengan benar. Mereka tidak tau kalau hidup itu bukan cuma dipake untuk kawin, nge-sex, berkembang biak dan mencetak anak sebanyak-banyaknya (kalau sanggup!) lalu mati.

Mereka tidak tau bagaimana menikmati setiap detik, setiap tahun, setiap apapun yang dilalui dalam hidup, makanya mereka memunculkan istilah-istilah tolol seperti, “Ingat umur!” atau, “Jadi kau ga ingat lagi (untuk) kawin ya?” dan istilah tolol lainnya. Huh, betapa bodohnya.

Kalau kau bertujuan untuk cuma kawin–nge-sex–mencetak anak–mati, yah, itu urusanmu. Tapi jangan cekcoki orang lain untuk mengikuti jalan yang kau pilih. Atau, jangan-jangan kau mencari kawan biar ada sama-sama “menderita” dan senasib denganmu ya?

Kalau kau berpikir bahwa kau yang masih seumur jagung dan masih bau kencur untuk mengerti hidup itu saja sudah begitu tua, yah, itu urusanmu. Tapi jangan usik orang lain untuk masuk ke dalam persepsimu dan dunia berpikirmu (yang tua itu). Terus terang, itu akan membuatmu tampak semakin bodoh di depanku.

Aku tidak anti pernikahan. Tidak. Tidak anti kawin juga—err, kawin dalam arti sebenarnya maksudku. Kalau kau ingin hidup cuma untuk kawin, ya kawin saja sana! Kenapa harus terbeban sama pernikahan? Takut dosa? Takut berzinah? Lha bukannya kawin dengan tujuan (cuma) untuk kawin itu juga udah sebuah legalisasi untuk berzinah? Lagipula, mencuri sama berzinah itu kasusnya sama kok. Sama-sama berdosa.

Aku tidak anti pernikahan, kataku. Tidak anti menjadi tua juga. Hanya saja, setiap orang punya pilihannya sendiri. Kalau aku bilang, punya pola pikirnya sendiri. Kalau kau mau mengikuti cara berpikir orang, yah silahkan. Tapi jangan ‘paksa’ orang lain untuk mengikuti cara berpikirmu juga. Untuk kasusku, aku lebih tertarik untuk mengatakan, “Aku punya jalanku sendiri!”

Dan, mungkin ini jugalah sebabnya kenapa mereka akhirnya berkata, pada suatu kali yang lain, “Enak ya kau sekarang? Jalan-jalan aja kerjamu!”, atau, “Makin cakep aja ya?” bla bla bla… Ohh, iya donk! Karena aku tau bagaimana cara menikmati hidup: aku memilih untuk tidak mau terkekang dan tidak mengikuti peraturan-peraturan abstrak tak masuk akal, yang sekarang sedang kau ikuti itu.

 

Oh ya, satu lagi. Aku juga ingin menikah dengan kekasihku nanti. NANTI. Tanpa meninggalkan kesenanganku untuk bersenang-senang tentu. (Tak mungkin? Ahh, itu satu lagi bukti bahwa cara berpikirmu terlalu dangkal.)

Understand

Now I understand. GOD isn’t unwilling to give what you asked. But because He knows, it does not suit you. Not good.

Instead, He will give you the best. That really SUITS you.

-Yulin Masdakaty-

because He do it for this.

The Journey Ends (A FanFic of Cloud and Tifa)

Author’s Introduction: Saya sangat menyukai Cloud dan Tifa di seri Final Fantasy VII, termasuk kisah tentang keduanya. Tapi Square Enix sepertinya juga sangat suka menggantung kisah para karakter Final Fantasy—termasuk Cloud dan Tifa—dan membuatnya tidak tuntas sehingga para penggemar dibiarkan terus penasaran. Jadi, fanfic ini ditulis cuma untuk “menyenangkan diri sendiri” aja (karena saya tidak suka penasaran). Terinspirasi dari plot game aslinya, Final Fantasy VII, dan dengan memasukkan beberapa adegan dari Advent Children, saya harap fanfic ini berguna untuk menjawab rasa penasaran yang sama dari kalian: para penyuka Cloud dan Tifa.

***

The Journey Ends

by Yulin Masdakaty

 

Prolog:

Namanya adalah Tifa. Tifa Lockhart. Dia adalah perempuan tercantik di kotaku, Nibelheim. Aku menyukainya sejak lama. Sejak kali pertama aku melihatnya bermain di perkebunan bunga milik paman Albert.

Aku menyukai Tifa.

Bukan cuma karena ia cantik. Tapi karena ia berani. Waktu itu aku melihatnya menantang Bruno, anak laki-laki bertubuh besar dan tinggi, karena Bruno mendorong teman Tifa hingga jatuh dan cedera. Lalu Tifa menghajarnya. Hahaha… anak laki-laki gembul itu ternyata roboh cuma dengan satu pukulan.

Ahh, aku semakin menyukai Tifa. Tapi aku tak berani mengatakannya. Jadi, aku hanya bisa melihatnya dari jauh saja, seperti ini.

 

Cloud menutup buku hariannya. Cukup satu catatan untuk hari ini. Catatan yang biasa ia tulis setiap kali gelombang aneh dalam hati itu muncul. Gelombang yang lebih mirip getaran gempa berskala richter dan membuatnya seringkali nelangsa.

“Cloud, sedang menulis apa?” tiba-tiba paman Albert muncul dari belakang. Kehadirannya menghangatkan sehingga setidaknya Cloud merasa aman kalau-kalau rasa gugupnya terbaca.

Paman Albert duduk di samping Cloud seolah tak peduli bocah laki-laki itu menjawab pertanyaannya atau tidak. “Kau menyukai anak itu ya?”

Kena kau!

“Haa?” Wajah Cloud merah padam. Bukan marah tapi malu. Ia ketahuan.

“Hahaha… dua hal yang tak bisa disembunyikan manusia, Cloud. Marah dan cinta. Yang paling kuat gejolaknya adalah yang terakhir. Ia serupa gejala sakit jiwa sehingga manusia seringkali kesusahan menangani efek yang ditimbulkannya. Dan kau. Mudah sekali membaca kalau kau menyukai anak perempuan itu.” Paman Albert berbicara bijak sekali. Untung yang berbicara adalah dia, orang yang kepadanya Cloud sering berkeluh kesah dan bercerita banyak hal. Orang yang Cloud percaya karena selalu mengayomi tanpa terkesan menghakimi. Orang yang bagi Cloud adalah ayah sebenarnya daripada ayah aslinya—yang pergi entah kemana. Kalau yang berbicara bukan dia, mungkin Cloud akan melekatkan topeng untuk menabalkan malunya selama berminggu-minggu.

“Kudengar Tifa akan pergi ke gunung Nibel minggu ini,” paman Albert melanjutkan lagi. Ia tetap tak peduli meski Cloud menjawab atau tidak.

“Haa? Untuk apa?” Ahh… akhirnya bocah pemalu itu penasaran juga. Paman Albert tersenyum simpul. Seolah merayakan kemenangan dari taruhan berani-tidaknya Cloud bertanya.

“Katanya, ia ingin memastikan apakah ibunya sudah sampai ke surga atau tidak. Hahaha… Tifa yang polos. Dia benar-benar berpikir ibunya pergi ke surga melalui gunung Nibel.”

Cloud hanya terdiam. Gunung Nibel? Bukankah itu daerah yang sangat berbahaya? Apalagi untuk anak-anak seperti kami. Ia merenung dalam hati.

“Ahh, sudah sore. Paman lupa harus ke tempat bibi Mae,” paman Albert beranjak berdiri. Sebelum memutar langkah, ia menepuk pundak Cloud hangat dan dalam, “Cloud, kalau kau menyukainya maka kau harus mengatakannya. Sebelum semua terlambat dan kau tak lagi punya kesempatan untuk sekedar mengutarakan niat.”

Cloud mengangguk pelan. “Iya, terimakasih paman,” sahutnya.

 

∞∞

Sabtu pagi. Bersama ketiga teman laki-lakinya, Tifa mulai mendaki ke gunung Nibel. Sebenarnya ketiga bocah laki-laki itu tidak punya nyali yang cukup untuk berpetualang ke tempat yang lebih sering mereka dengar versi seramnya ketimbang versi bagusnya. Hanya saja, karena malu dikatakan pengecut dan demi sebuah gengsi agar dikatakan pemberani, jadilah mereka mengikut Tifa sekarang.

Di tengah perjalanan, memasuki hutan lebat yang semakin rapat, nyali mereka yang sedikit itu semakin ciut. Suara burung hutan dan jangkrik liar mengintimidasi mereka.

“Kami tidak bisa menemanimu lebih jauh, Tifa. Hutan ini menyeramkan. Kita pulang saja,” ajak ketiga bocah itu.

“Tidak! Aku harus memastikan ibuku sudah sampai di surga atau tidak!” Tifa berkeras.

“Ibumu sudah meninggal, Tifa. Dan ia tidak lewat gunung ini. Kau tidak perlu mencarinya. Ia sudah damai di surga sekarang.”

“Tidak! Aku harus mendaki puncak Nibel!”

“Ya sudah. Kalau itu maumu, terserah. Kami sampai di sini saja. Kami mau pulang. Tempat ini benar-benar menakutkan,” ketiga bocah itu lalu meninggalkan Tifa sendirian.

Hutan yang semakin rapat menghambat sinar matahari yang jatuh. Degradasi bayangan dari pohon-pohon menghasilkan ilusi. Tifa mulai gentar. Air matanya mulai menggantung.

“Aku tidak boleh takut. Aku tidak boleh takut. Aku harus bertemu ibu.” Ia mengatakan itu berulang-ulang seperti mantra. Semakin lama ia merapal semakin kencang. Beban air matanya yang menggantung mulai terasa berat dan akhirnya menjebol tanggul pertahanan. Tifa menangis. Tapi ia tetap mendaki. Dan merapal kalimat sakti itu.

“Tifa…”

Tifa berhenti sejenak. Kali ini bukan hanya jantungnya yang berdebar dan bergetar, tapi juga lututnya. Bibirnya. Tangannya. Tubuhnya. Ia ketakutan setengah mati. Siapa yang memanggil namaku? Apa itu hantu? Ia memanggil namaku. Aku takut… Tifa melanjutkan berjalan. Kali ini sambil memejamkan mata.

“Tifa…”

Jangan ganggu aku. Jangan ganggu aku. Aku janji tidak akan mengganggu wilayahmu. Aku hanya ingin bertemu ibuku. Aku janji… Tifa semakin takut. Ia bergidik. Hantu itu mendekat.

“Tiii…”

Tifa merasakan sentuhan lembut yang nyaris melayang di atas bahunya. “Tidaaakkk!! Jangan ganggu aku!! Aku hanya ingin bertemu ibuku! Aku janji, selepas bertemu dengannya aku akan segera turun dan tidak akan melewati tempatmu ini lagi!!” Tifa menjerit. Tangisnya membuncah.

“Hei… hei… ini aku! Cloud!” sentuhan lembut yang nyaris melayang tadi membalikkan bahu Tifa. Tifa berhenti menangis.

Spontan ia langsung melompat memeluk Cloud. Selama beberapa detik sebelum keduanya tersadar lalu tersipu malu-malu.

“Maaf, aku pikir kau hantu,” Tifa memecah kebekuan yang lebih mirip keadaan-salah-tingkah diantara keduanya.

“Apa menurutmu ada hantu yang setampan aku?” Cloud masih belum bisa berpikir jernih sejak Tifa memeluknya tadi. Kekacau-balauan sinergi antara kaget, senang, suka, deg-degan, dan semua ke-chaos-an perasaan itu masih bergejolak kencang sehingga jadilah ia mengeluarkan guyonan jayus seperti itu.

“Sekalipun kau tampan tapi kalau kau hantu tetap saja tak berarti bagiku,” Tifa terkekeh. Ia harus mengakui kalau kehadiran Cloud sedikit banyaknya membantu meredakan takutnya.

Mereka berjalan semakin naik mendekati puncak Nibel. Sambil berjalan mereka mengobrol dan bercerita banyak hal. Perjalanan yang semakin lama semakin membuat akrab.

Di ujung perbatasan ada jembatan gantung yang menghubungkan dua jalan kecil di hutan Nibel yang terbelah karena sungai Logan. Jembatan itu sangat sempit sehingga mereka harus melaluinya satu-satu. Tifa mendahului. Di pertengahan, jembatan itu runtuh karena kayunya yang tua lapuk dan rapuh. Tifa terjatuh. Sebelum jatuh Cloud sempat ingin meraihnya tapi terlambat. Gravitasi ternyata lebih cepat menarik Tifa jatuh jauh ke bawah daripada ketangkasan dan kelincahan tubuh Cloud bergerak.

Tifa koma berhari-hari karena itu. Sedangkan Cloud hanya cedera ringan. Ayah Tifa berang bukan main. Ia menuduh, “Kaulah penyebab semua ini! Kau yang mengajak Tifa bermain ke dalam hutan!”

Cloud hanya diam. Ia merasa bersalah. Rasa bersalah yang teramat sangat sehingga tidak berani dan malu bertemu dengan anak perempuan itu. Berminggu-minggu. Berbulan-bulan. Bertahun-tahun. Pun setelah Tifa pulih dan kembali ceria seperti sedia kala.

Aku tidak berguna. Aku tidak bisa melindungi orang yang kusayangi. Ia meyakinkan itu pada dirinya sendiri yang membuatnya semakin jauh… semakin hilang… dari bayangan Tifa.

***

 

SUDAH BEBERAPA TAHUN sejak kejadian itu. Tifa kini tumbuh menjadi remaja yang semakin cantik dan diidolai banyak cowok di Nibelhaim. Cloud tau itu sehingga seringkali ia harus menahan sendiri cemburunya yang setengah marah waktu melihat cowok-cowok penggemar Tifa mengiriminya bunga atau surat cinta. Tapi bukankah ia sudah terlanjur menghilang dari bayangan cewek itu? Jadi, ia hanya bisa melihatnya dari jauh saja. Seperti dulu.

Suatu kali Cloud mendengar kalau grup pemberontak Avalanche di Midgar sedang membuka lowongan untuk calon Soldier. Sebuah pekerjaan prestisius yang banyak diidam-idamkan anak laki-laki karena para Soldier biasanya terlihat sangat keren. Mereka berpakaian seperti para kesatria sambil menenteng pedang atau senjata api modern yang membuat mereka semakin terkesan cool. Postur tubuh mereka atletis karena dibentuk latihan demi latihan berat maupun frekuensi berjibaku dengan para penjahat.

Cloud tertarik menjadi Soldier. Karena ia ingin membuat Tifa terkesan—syukur-syukur Tifa bisa jatuh cinta karena itu.

Pada malam terakhir sebelum keberangkatannya ke Midgar ia memberanikan diri mengajak Tifa bertemu di menara air.

Cloud sengaja tiba duluan karena tak ingin Tifa menunggu.

“Hai, kau sudah lama menungguku?” Tiba-tiba Tifa mengejutkan lamunannya.

“Tidak,” Cloud tersenyum.

“Wah… sudah lama tidak bertemu ternyata kau benar-benar semakin tampan!” Tifa sumringah. Ahh, wajah cantiknya semakin merona. Cloud masih tersenyum. Ia senang. Itu berarti Tifa memperhatikannya juga.

“Kau juga. Semakin cantik.” Cloud berkata jujur.

“Hei… kita ke sini tidak untuk saling memuji kan? Hahaha… Baiklah. Kau ingin mengatakan apa?”

Tiba-tiba saja Cloud merasa lidahnya kelu. Tiba-tiba saja rangkaian kata-kata yang sudah disusun rapi sejak awal tibanya tadi di taman ini mendadak beku. Ia kaku. Dicecar sedemikian frontal dan tanpa basa-basi oleh Tifa membuatnya mendadak bodoh.

“Cloud?” Tifa hanya ingin memastikan kalau Cloud mendengar pertanyaannya tadi. “Kau ingin mengatakan apa?”

Aku menyukaimu. Aku mencintaimu!

“Aku akan pergi ke Midgar.”

“Hah? Untuk apa?” Tifa tampak terkejut. Ia begitu transparan sehingga Cloud bisa melihat segenap ekspresi yang ada padanya. Tifa yang polos, benar kata paman Albert. Ia tidak memiliki kamuflase dan kepura-puraan sehingga kau seolah bisa menatap langsung ke dalam hatinya yang jernih.

“Aku ingin menjadi Soldier.

“Untuk apa?” Tifa mencecar terus.

“Aku ingin menjadi kuat dan bisa melindungi orang-orang di Nibelheim.”

Tifa terdiam. Ia menunduk. Seberkas senang dan sedih yang timbul bersamaan. Senang, karena baru saja bertemu Cloud—yang makin tampan—setelah “terpisah” bertahun-tahun. Sedih, karena harus berpisah lagi dengan Cloud setelah baru saja merasakan euphoria kegembiraan itu.

“Berapa lama kau di Midgar?” tanya Tifa. Ia masih menunduk.

“Aku tidak tau. Sekarang aku empat belas. Mungkin aku akan bertemu kau lagi ketika aku dua puluh, hehehe…” Cloud mencoba melucu. Tapi Tifa tidak tertawa.

“Bagaimana kalau aku membutuhkanmu?” Tifa akhirnya menegakkan kepalanya. Kali ini ia menatap langsung menuju kornea mata Cloud yang bening biru.

“Aku…” Akhirnya bola mata keduanya bertemu. Berhadapan secara lugas dan gamblang yang meruntuhkan semua kepura-puraaan.

“Aku akan selalu ada saat kau butuh. Selalu ada saat kau dalam bahaya. Aku akan selalu melindungimu!” Cloud berjanji. Dalam hati ia memperkuat janji itu dengan bersumpah.

“Kau janji?”

“Aku janji!” tegas Cloud sambil menyematkan cincin sederhana dari plastik—yang beberapa waktu lalu ia tempa sendiri—ke jari Tifa. Tifa hendak bertanya apa maksudnya tapi Cloud buru-buru mengkonfirmasi. “Ini bukti kalau aku berjanji padamu, hari ini,” katanya.

Tifa menunduk. Berusaha menyembunyikan air matanya yang mulai membendung.

“Sampai ketemu lagi Tifa.” Tiba-tiba Cloud memeluk. Hangat dan dalam. Selama beberapa menit dan tidak ada kata-kata. Cuma sebuah komunikasi verbal yang cukup mewakili jutaan kata-kata dan ekspresi dalam hati. Setelah itu Cloud berbalik dan tidak melihat lagi ke belakang.

~~¤~~

PART – 1

 

Hari ini tepat satu tahun sejak Cloud mempamitiku di menara air. Kenapa waktu rasanya cepat sekali berlalu ya? Aku merasa ia baru pergi kemarin malam… tapi, ah. Apa ini? Kenapa aku tiba-tiba merasa aneh? Apa aku merindukannya?

Hmmm… mungkin saja.

Tidak. Bukan mungkin saja. Tapi, ya! Aku merindukannya. (“_)

Cloud… apa kabarmu sekarang?

Tifa menutup buku hariannya. Sudah setahun juga sejak ia tiba-tiba merasa rajin menulis di buku harian. Padahal sebelumnya tidak pernah. Jangankan menulis, terpikir untuk membeli barang itu saja tidak pernah. Semuanya terjadi secara otomatis. Begitu saja. Sejak kepergian Cloud tahun lalu ia mendadak merasa satu sisi tiba-tiba hilang. Sesuatu yang hilang itu kemudian ia coba temukan dengan menuangkannya menjadi curhatan-curhatan di lembar catatan harian. Tapi itu juga tidak terlalu berhasil. Ahh, nilai seseorang memang terasa berarti justru ketika ia tidak ada.

Tifa menerawang jauh. Menembus batas cakrawala matahari senja yang menerobos dari jendela kamar. Seminggu lagi tim SOLDIER dari Avalanche akan datang menginspeksi reaktor mako di gunung Nibel. Mereka mencurigai reaktor mako telah disalahgunakan oleh perusahaan Shinra untuk sebuah proyek rahasia ilegal. Tifa ditunjuk menjadi guide bagi tim Soldier itu karena ia dianggap orang yang paling paham soal rute menuju gunung Nibel. Meskipun Tifa cuma melewatinya setengah waktu kecil dulu tapi ia masih ingat betul: reaktor mako berada di awal “pintu masuk” menuju gunung Nibel.

∞∞

Hari yang dijanjikan tiba. Tifa sengaja tiba duluan di gerbang pembatas di pinggir kota. Ia terlalu senang hari ini. Kabar kedatangan tentang para Soldier Avalanche itu setidaknya memberinya harapan akan bertemu Cloud lagi. Tapi, setelah utusan dari Avalanche benar-benar tiba, Tifa kecewa. Tim dari Avalanche hanya diwakili oleh dua Soldier Kelas Satu—yang sudah diakui kehebatannya, Sephiroth dan Zack. Sisanya hanya ada dua prajurit infantri biasa yang mengenakan balaclava—penutup kepala ala ninja yang sering dipakai para polisi rahasia.

Tifa mengantar tim dari Avalanche itu menuju reaktor mako tapi ia hanya mengantar mereka sampai di pintu gerbang. Selama tim itu menyelidiki mako, ia menunggu di luar. Seorang prajurit infantri yang sejak tadi mengawal mereka ternyata sedang berjaga-jaga di luar.

“Hei!” panggil Tifa. Prajurit itu menoleh.

“Ya, kau!” Tifa mendekati prajurit itu.

“Ada apa?” tanya si prajurit.

“Kau dari Avalanche juga kan? Apa kau mengenal Cloud?”

“Hah?” prajurit itu seperti kebingungan.

“Cloud. Anak laki-laki yang melamar menjadi calon Soldier di Avalanche. Dia juga berasal dari Nibelheim. Apa kau kenal dia?”

Si prajurit hanya diam. Mungkin dia benar-benar tidak mengenal Cloud, pikir Tifa.

“Kenapa?” tiba-tiba prajurit itu bertanya.

“Hmm… tidak apa-apa. Aku pikir dia juga ikut bersama kalian ke sini,” ujar Tifa sambil berlalu. Raut wajahnya kecewa. Ia meninggalkan si prajurit infantri sambil menunduk sedih. Si prajurit hanya memandangi Tifa yang menjauh.

Tim Avalanche selesai menginspeksi. Mereka lalu kembali ke kota. Semua, kecuali seorang Soldier bernama Sephiroth. Ternyata ia masih menemukan beberapa kejanggalan menyangkut proyek illegal Shinra sehingga ia memilih tetap tinggal. Sephiroth menghabiskan waktu berhari-hari di ruang bawah tanah reaktor dan membaca hasil penelitian yang ditulis oleh Professor Gast dan Hojo. Apa yang dibacanya ternyata membuatnya marah luar biasa. Amarah yang luar biasa itu seperti magma yang dipendam di bawah gunung berapi selama ratusan tahun. Ketika tak tertahan lagi, maka meledak dengan dahsyatnyalah ia. Sephiroth menyerang seluruh penjuru kota Nibelheim dan membunuh semua penduduknya. Termasuk ayah Tifa—Tifa sedang tidak ada di Nibelheim waktu itu makanya ia selamat.

Ketika Tifa tiba, ia begitu histeris melihat tubuh ayahnya sudah terbujur kaku bersimbah darah. Dengan keberanian bulat teguh yang terkumpul karena ambisi membalas dendam yang menggebu-gebu Tifa mengejar Sephiroth sampai ke reaktor mako. Di reaktor, ia menemukan Masamune—pedang panjang milik Sephiroth—tergeletak di samping tubuh presiden Shinra yang juga sudah tak bergerak. Tewas.

Tifa memungut Masamune itu dan mencoba menghajar Sephiroth dari belakang. Tapi, tentu saja. Gadis itu bukan lawan yang sebanding. Dengan mudah Sephiroth segera merebut pedangnya dan menusuk tubuh Tifa. Untungnya Soldier yang lain, Zack, tiba-tiba menginterupsi sebelum Sephiroth melanjutkan aksi berikutnya. Tifa selamat meski ia sekarat. Ia hendak bergerak lagi, ahh… ternyata kesedihan yang teramat sangat itu bisa menjadi bius yang membuat orang lupa akan kesakitan. Tifa hendak menyerang lagi, tapi prajurit infantri yang kemarin berbincang dengannya di luar reaktor tiba-tiba menahan. Tifa terkesiap beberapa saat. Ia kaget begitu melihat prajurit itu melepas balaclava-nya.

“Cloud…?” Tifa tergugu. Ia terlalu kaget dan tidak menyangka. Atau terlalu senang?

“Kau menepati janjimu juga,” kata Tifa sebelum ia pingsan dan tidak mengingat apa-apa lagi.

***

PART – 2

 

Aku belum bisa melupakan insiden di reaktor mako beberapa tahun lalu. Kejadiannya begitu menyakitkan sampai-sampai kejadian itu masih harus terus membayangi sampai hari ini. Siapa yang menyangka kalau di insiden itu juga aku harus bertemu dan kehilangan orang yang paling kukasihi sekaligus. Baiklah, aku memang senang bertemu Cloud—yang ternyata bersembunyi di balik seragam prajuritnya. Tapi kematian ayahku masih terasa menyakitkan. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Ahh…

Dan, Cloud… aku tidak tau apa yang terjadi padanya kini. Kenapa ia bukan seperti Cloud yang ku kenal dulu? Ia semakin asing… terutama sejak, ahh… aku benci mengatakan ini, tapi… aku tidak suka melihat Cloud yang semakin akrab dengan Aerith. Apakah aku cemburu? Kurasa ya. Tapi, aku tidak bisa mengatakan ini.

 

Aku mencintai Cloud.

 

Dan, Cloud sedang bingung sekarang. Ia tidak tau apa yang dia lakukan karena sel-sel Jenova yang disuntikkan Profesor Hojo membuat Cloud membentuk kepribadian yang ambigu. Percobaan yang dilakukan Profesor Hojo memang mendatangkan musibah. Sebagian besar orang yang diuji coba meninggal dunia. Kecuali Zack, Soldier Kelas Satu yang hebat itu. Tapi, aku sedih karena Zack harus meninggal juga. Bukan karena percobaan. Tapi karena tentara Shinra membunuhnya waktu ia mencoba meloloskan diri bersama Cloud beberapa waktu lalu.

Dan Aerith. Meski aku cemburu karena melihat ia mendekati Cloud, aku harus mengakui kalau ia adalah wanita yang baik. Ia sangat baik dan ramah. Kelembutan hatinya sudah membuatnya “mengorbankan diri”. Sephiroth menusuknya dari belakang ketika ia sedang berdoa di gereja.

—Catatan  diari Tifa setelah Geostigma mulai mewabah di Planet Gaia—

 

Sudah hampir dua tahun ketika para pasukan Avalanche menyerang kota Midgar. Kota itu mirip kota mati yang cuma berisi puing-puing bangunan yang hancur. Para penduduknya pun adalah orang-orang yang putus harapan dan hanya tinggal menunggu mati. Semua karena penyakit Geostigma yang menyebar sangat cepat—terutama pada anak-anak.

Sejak Nibelheim dihancurkan, Tifa yang memang sudah tidak punya keluarga siapa-siapa lagi memutuskan bergabung dengan grup pemberontak Avanche dan pindah ke kota ini. Bersama Cloud, ia mendirikan sebuah bar bernama 7th Heaven untuk menggantikan bar lamanya yang ikut hancur. Bersama Cloud juga, Tifa ikut membangun sebuah usaha yang dinamakan Strife’s Delivery Service, sebuah jasa pengiriman barang. Tapi, meskipun begitu, Cloud sangat jarang tinggal di 7th Heaven.

Semuanya berubah. Sejak Aerith meninggal. Sejak Geostigma mewabah. Sejak teman-teman terdekat meninggal satu-satu. Cloud… dimanakah dia sekarang? Tifa sering bertanya itu. Tapi hanya dalam hati.

Di bar 7th Heaven, Tifa tinggal bersama dua anak yatim piatu, Denzel—bocah ini juga terkena Geostigma—dan Marlene. Tapi Marlene sudah diangkat menjadi anak oleh Barrett. Sementara Denzel… Cloud menemukannya di reruntuhan Sektor 7 ketika Cloud sedang menginspeksi sisa-sisa gedung Shinra yang telah runtuh. Ketika ditemukan, Denzel sudah tergeletak pingsan di dekat Fenrir milik Cloud. Ia pingsan karena Geostigma-nya yang mendadak kambuh. Sebelum pingsan, anak itu sempat menghubungi nomor telepon 7th Heaven karena itu adalah satu-satunya nomor yang bisa dihubungi pasca penyerangan kota Midgar. Bukan. Karena itu adalah satu-satunya nomor yang tertera di list panggilan tak terjawab di ponsel milik Cloud.

“Ikutlah bersamaku, nak,” kata Cloud sambil menaikkan Denzel ke belakang motor besarnya. “Tifa memintaku untuk membawamu juga,” sambung Cloud lagi. Ia memegang tangan Denzel yang bergetar karena lemah dan tetap menahan seperti itu sampai mereka tiba di 7th Heaven.

∞∞

Suatu ketika di hari lain, Tifa mengunjungi gereja milik Aerith bersama Marlene. Sekedar ingin berkunjung. Dan melihat-lihat. Syukur-syukur bisa sekalian merasuki kenangan tentang Aerith yang lembut, teman lama yang pernah ia cemburui dulu. Dan Marlene, ahh… anak itu menggemaskan sekali. Meskipun masih kecil, tapi Marlene memiliki kepedulian yang sangat besar terhadap orang-orang di sekitarnya. Setiap hari ia merawat Denzel yang menderita Gesotigma dengan telaten. Pun dengan Cloud yang tidak pernah ia temui lagi. Marlene begitu rindu sehingga ia menolak waktu Tifa mengajaknya pulang.

“Aku tidak mau pulang! Aku ingin bertemu Cloud!” sahutnya lantang dan berkeras tetap tinggal.

Tifa… ia tidak bisa menentang Marlene kalau sudah begini. Ya sudah. Tifa menemani Marlene bermain di ladang bunga—yang ditanam Aerith dulu—di sekitar gereja.

Ketika Marlene asyik mengagumi bunga-bunga milik Aerith, seorang pria masuk dan mendobrak pintu gereja dengan keras. Marlene bergegas menuju pintu tapi Tifa segera menahan. Itu bukan Cloud! Tapi, entah siapa aku juga tidak mengenal.

Pria itu meracau dan terus mencari-cari sesuatu yang ia sebut dengan “ibu”.

“Ibu siapa? Tidak ada siapa-siapa di sini!” jawab Tifa ketika pria itu terus mendesak.

“Baiklah, kalau gitu, bagaimana kalau kita bermain saja? Pasti sangat menyenangkan!” ajaknya.

Bermain, tentu saja bermain yang ia maksud adalah bertarung. Darimana ia tau kalau Tifa juga memiliki kemampuan bertarung yang tidak biasa? Entahlah.

Tifa mencoba melawan. Tapi, bagaimanapun, ya bagaimanapun, ia bukan lawan yang seimbang. Pada akhirnya ia harus menyerah setelah dikalahkan dengan Limit Break, tekhnik bertarung paling mematikan dari Loz, pria itu.

Loz meninggalkan Tifa yang sekarat di ladang bunga dan membawa Marlene dan material milik Cloud. Ia membawa anak itu ke Ajit, yang juga disebut Forgotton City, tempat bos-nya Kadaj dan seorang teman yang lain, Yazoo, membawa anak-anak lain yang terkena Geostigma untuk dicuci otaknya.

Ketika Cloud akhirnya tiba di gereja, betapa terkejutnya ia ketika melihat Tifa sudah tergeletak di ladang bunga. Tidak biasa-biasanya gadis itu terbaring tak berdaya—karena ia sangat kuat dan mandiri.

“Tifa! Tifa!” panggil Cloud dengan cemas beberapa kali sambil mendekap Tifa dalam pelukannya.

Aku mohon jawab aku! Cloud sangat ketakutan. Ia takut kalau lagi-lagi ia akan kehilangan orang yang sangat ia kasihi. Lagi.

Tapi Tifa tidak menjawab.

“Tifa!!” Cloud mengguncang tubuh gadis itu lebih keras.

Setelah memanggil beberapa kali akhirnya Tifa sadar. Dan menjawab meski dengan suara yang sangat lemah.

“Siapa yang melakukan ini?” tanya Cloud. Nada suaranya masih menunjukkan kekhawatiran luar biasa.

“Aku tidak tau. Ia tidak menyebutkan nama,” jawab Tifa sebelum akhirnya ia pingsan kembali.

Ahh, de javu. Kejadian yang sama ketika Cloud menemukannya sekarat waktu mencoba menyerang Sephiroth di reaktor mako dulu. Kejadian itu berulang kembali.

***

PART – 3

 

Bagaimanapun, aku harus berterimakasih kepada Aerith.

(Terimakasih Aerith)

Karena—meskipun sudah meninggal—tapi keberadaannya masih tetap menemani. Ia membantu banyak hal. Ia membantu memberikan semangat untuk Cloud dengan kenangan manis yang ia ciptakan dulu. Dan, sekarang aku tidak lagi menganggapnya competitor yang harus dicemburui. (Mungkin ia juga sudah bahagia bersama Zack, pacar pertama—dan mungkin kekasih abadinya—sekarang. Di surga.)

Terimakasih Aerith, karena sudah membantu mengembalikan semangat Cloud dan memberinya cara pandang yang lain. Terimakasih juga karena sudah membantu menurunkan hujan yang menyembuhkan Geostigma. Kau bisa melihat. Kini semua orang bahagia.

Terimakasih, ibu. (Ahh, aku harap kau tidak marah kalau aku ikut-ikutan memanggilmu ibu juga! Hehehe… Salam kepada Zack. Kalian adalah teman yang baik!)

Tifa menutup buku hariannya. Cukup satu catatan untuk hari ini.

~~¤~~

Epilog:

Pinggiran kota Midgar Edge.

Midgar sedang dibangun kembali. Para penduduknya seolah menemukan semangat yang baru kembali. Sejak hujan penyembuh dari Aerith turun. Sejak semua musuh yang masih tersisa dari generasi Sephiroth dihabiskan.

Dan di atas tebing di pinggir kota itu, Cloud sedang berdiri. Memandang ke arah kota Midgar yang baru di bawahnya. Kota itu kini semakin tumbuh bergairah. Semakin hidup.

Cloud tersenyum. Bebas. Lepas. Sudah lama sekali rasanya ia tidak tersenyum sebebas itu. Dulu, ketika sedang bertarung melawan monster Sin Bahamuth yang menghancurkan sisa-sisa kota Midgar, ia pernah mengatakan separuh bebannya terasa lepas kepada Tifa.

Kini, separuh beban yang mungkin masih tersisa itu sudah sepenuhnya lepas.

Ia merasa begitu bebas.

“Hei, Cloud! Kau mengajakku ke sini untuk apa?” Tifa yang tiba-tiba bertanya menyentakkan lamunannya.

“Eh?”

Tifa tersenyum. Cloud semakin tersenyum melihat gadis kesayangannya itu tersenyum.

“Tifa, kau masih ingat ketika aku mengajakmu bertemu di menara air dulu? Ketika kita masih kecil?”

“Ya, tentu saja. Itu kan saat pertama dan terakhir aku melihatmu setelah bertahun-tahun. Bagaimana aku bisa lupa?”

“Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu waktu itu. Sama seperti saat ini,” Cloud menatap Tifa serius. Tifa mendadak salah tingkah begitu melihat Cloud yang tiba-tiba serius. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Cloud melihat itu. Ternyata Tifa masih memakainya! Cincin berbentuk Fenrir—simbol yang hanya melambangkan personality Cloud. Cloud memberikan cincin itu kemarin dulu. Waktu ia akan kembali ke Midgar setelah menyelamatkan Tifa yang pingsan di reaktor mako.

Ia memberi cincin itu untuk mengganti cincin plastik yang pernah ia berikan kepada Tifa waktu kecil dulu. Sekaligus untuk memperbaharui janjinya. Cincin itu terbuat dari logam langka. Berbentuk Fenrir. Simbol kepribadiannya—karena hanya Cloud sendiri yang memakai simbol Fenrir. Cloud sendiri juga yang menyematkan cincin itu ke jemari Tifa, sama seperti yang pernah ia lakukan. Ahh, kenapa de javu sering sekali terjadi?

“Cloud?” Tifa bertanya lagi. Ia hanya ingin memastikan kalau Cloud mendengar pertanyaannya.

“Kau ingin mengatakan apa?”

Cloud tertegun sebentar. Tanpa disadari—Cloud hanya mengikuti instingnya, ia meraih jemari Tifa yang tersemangat cincin Fenrir pemberian Cloud dulu.

“Tifa, aku menyukaimu. Aku mencintaimu!”

Aneh. Kali ini Cloud mengatakannya langsung secara lugas. Tidak ada lagi tembok yang menghalangi atau membebaninya.

“Apa?”

“Aku mencintaimu, Tifa!” ulang Cloud lagi. Sembari itu ia mendekatkan wajahnya. Lalu mencium Tifa. Hangat. Lembut.

 

~~END~~

 

Author’s Note: Kyaaaa….!! Akhirnya fanfic ini selesai juga! Sebenarnya aku ingin menulis lebih banyak lagi. Dan menambahkan detail-detail yang lebih rinci lagi. Tapi, karena keterbatasan waktu (aku bukan bermaksud sok sibuk… tapi aku memang benar-benar sangat sibuk karena harus mengerjakan banyak artikel lain!!) jadilah fanfic ini ditulis sebegini saja.

Fanfic ini hanya “dikerjakan” dalam dua hari. Hari pertama, sejak Shii mengundangku untuk mengikuti event menulis fanfic di Facebook, dan hari terakhir, sebelum batas pengiriman fanfic berakhir. Hahaha… Makanya, di hari terakhir itu, jadilah aku mengerjakan sisa tulisan ini dengan sangat ngebut. (Maaf, kalau hasilnya tidak maksimal yaa…)

Sekali lagi, aku harap, fanfic ini juga bisa memuaskan kalian: para penyuka Cloud dan Tifa. (^___^)v

Finding GOD.

Semakin banyak orang yang mempertanyakan tentang Tuhan. Haha… Kenapa? Entahlah. Mungkin mereka masih mencari kebenaran—menurut mereka—di dunia. Mungkin mereka sedang dalam proses pemahaman untuk mengerti tentang Tuhan, apalagi Tuhan kan juga tidak bisa dilihat secara kasad mata—kecuali kalau Dia benar-benar menunjukkan diriNya kepadamu. Maka semakinlah mereka mencari. Dan mencari. Apa itu Tuhan? Bagaimana menemukanNya? Apakah agama adalah satu-satunya cara menemukan Tuhan? Hmm… pertanyaan-pertanyaan seperti itulah.

Lalu, apakah aku percaya Tuhan? Well, tentu saja aku percaya Tuhan. I love God indeed.

Aku juga pernah mempertanyakan tentang Tuhan. Termasuk asal-usulnya dan siapa yang menciptakannya. Dulu.

Tapi, yah… aku sudah berhenti mempertanyakan tentang itu. Sudah berhenti berusaha menemukan ajaran (agama) mana yang paling benar. Sudah berhenti menyelidiki hal-hal yang bikin pusing seperti itulah. Kenapa? Ya, tentu saja karena aku sudah menemukannya.

Menemukan Tuhan, maksudku. Bukan menemukan jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang nggak akan pernah habis itu.

Aku sudah menemukan Tuhan-ku. Titik. Dan tidak perlu bertanya aneh-aneh lagi.

Menurutku, itulah permasalahan orang-orang yang selama ini mencari Tuhan. Sebenarnya, mereka terlalu banyak bertanya. Terlalu banyak ingin tau. Terlalu banyak penasaran. Terlalu banyak ingin menyelidiki. Dan terlalu banyak yang lain. Sehingga mereka tidak menyadari, apa yang mereka cari sebenarnya sudah ada di depan mata.

Tuhan itu complicated. Sangat complicated bahkan, menurutku. Sehingga mempertanyakan segala sesuatu tentang eksistensinya tidak akan melegakan dahagamu yang haus jawaban. Malah, itu akan membuatmu semakin haus… haus… pusing… pusing… bingung… bingung… dan terakhirnya jadi gila! Hahaha…

Tuhan itu sangat complicated. Sementara otak manusia kita ini tidak terlalu kompleks untuk mengerti Tuhan yang complicated itu. Sehingga, menurut teoriku, itulah yang membuat manusia tidak pernah mengerti tentang Tuhan. Termasuk manusia paling jenius di dunia sekalipun.

OK, kembali lagi. Tadi aku baru saja membaca stats seorang teman di Facebook yang “berdiskusi” tentang agnostic, atheism dan sebagainya. Ujung-ujungnya aku jadi teringat lagi tentang seorang teman yang kemarin dulu pernah bertanya ketika kami lagi hang out, “percayakah kau akan eksistensi Tuhan?” katanya.

Aaahhhh…. Aku selalu benci topik itu! (Jawabannya tidak akan pernah habis, bung!) Agama mana yang paling benar di dunia? Katanya lagi. (Aaaahhh…. Kau mau menjadi orang paling benar di muka bumi, bung?)

Menurutku, agama itu cuma sebuah kendaraan. Cuma sebuah transportasi yang bisa membawamu menemukan Tuhanmu. Agama itu cuma mengajarkan bagaimana tata caranya. Seperti manual book ketika kau membeli produk elektronik baru. Haaa… kira-kira seperti itulah.

Tak masalah apapun kendaraannya, dan tak ada yang bisa mengatakan itu salah atau benar, selama itu bisa membawamu menemukan Tuhanmu.

Tapi, yang sering terjadi adalah, banyak orang-orang yang justru merusak agama yang dianutnya sendiri. Terutama orang-orang yang sok tau… yang ngerasa udah paling ngerti soal Tuhan berdasarkan agama yang dianutnya itu lalu mulai “menyerang” stabilitas spiritual dan emosional orang lain di sekitarnya. Makanya nggak heran, ada orang yang kayak nggak salah apa-apa trus nunjuk-nunjuk ke orang lain sambil bilang, “Kau ini berdosa!” “Ajaran agamamu salah!” “Kalo mati, nanti kau bakal masuk neraka!”

Bah!

Kau pikir kau siapa makanya bisa memutuskan orang kayak gitu? Hakim dunia???

I don’t care about religion. I don’t care about those believers. I just wanna care about Jesus, Jesus Christ—God that I have already found. Selebihnya, terserahlah di situ.

Satu hal yang aku temukan (sepanjang perjalanan pencarianku), penganut agama tidak akan memberikan kebenaran apa-apa yang bisa mencerahi perjalananmu menemukan tuhanmu. Bahkan mereka seringkali salah dan mengecewakan sehingga Mahatma Gandhi lebih suka melihat Yesus ketimbang orang-orang Kristen relijius yang mengelu-elukan atau menyebut-nyebut namanya 50 kali satu hari.

Tidak ada yang salah dengan agama apapun, selama itu bisa membawamu menemukan Tuhanmu. Karena itu kan inti yang dicari orang selama ini makanya nggak berhenti-berhenti bertanya?

Read (your) mind?

Ahh, sekarang aku tau jawabannya teman. Aku tau. Kenapa seolah-olah aku bisa membaca pikiran dan menebak dengan benar.

Aku tidak bisa membaca pikiran, teman. Sama sekali tidak bisa. Aku hanya meyimpulkan. Membuat hipotesa setelah memperhatikan dengan seksama setiap detail demi detail cerita atau apapun yang kau tunjukkan padaku. Lalu membuat kesimpulannya.

Mungkin karena aku sudah tertarik dengan cerita-cerita detektif sejak kecil lalu, seluruh perjalanan hidupku pun hampir selalu dilalui dengan cerita-cerita dan kisah penyelidikan seperti itu. Mulai dari kisah Lima Sekawan yang ditulis Enid Blyton yang tiap edisinya hampir tak pernah kulewatkan ketika aku masih di sekolah paling dasar dulu, juga film-film tentang penyelidikan yang beberapa judulnya bahkan masih kuingat jelas sampai sekarang. Seven yang dibintangi Brad Pitt dan Morgan Freeman, From Hell yang dibintangi Johnny Depp atau Mystic River yang dibintangi Sean Pean. Itu masih beberapa dibandingkan dengan sejumlah cerita dan film (detektif) lain yang kutenggelamkan diriku ke dalamnya.

Sampai ketika aku membaca novel yang ditulis Sir Arthur Conan Doyle inilah teman. Akhirnya aku menyadari alasan dibalik semua pernyataan-pernyataan yang sering dilontarkan teman-temanku yang lain —yang karenanya membuatku sempat berpikir kalau aku aneh seperti “Kau benar-benar bisa membaca pikiran ya?”

Ahh, seperti yang tadi kukatakan teman. Aku tidak bisa. Sama sekali tidak bisa membaca pikiranmu atau mengetahui apa yang akan kau lakukan lima detik berikutnya—kalau kau tak memberi tau aku. Seperti yang dikatakan Sherlock Holmes—yang mungkin sekaligus dikatakannya untuk menyadarkanku juga. “Aku hanya hebat dalam menyimpulkan. Dan cenderung nekad untuk itu.”

my Britannia guy.

Mungkin James McAvoy harus berterima kasih sama saya, karena gara-gara melihat dia main di X-Men: First Class -lah akhirnya saya bisa tergila-gila sama pria Inggris—”teman-teman” senegaranya—seperti sekarang. Hahaha…

OK, sebenernya saya udah sering liat orang Inggris bersileweran di “dunia” saya—selain karena mahasiswi jurusan (British) English Linguistics yang notabene mempelajari budayanya juga—, saya juga penggemar film-film dan musik Inggris.

Tapi, entah kenapa, setelah melihat James McAvoy di film X-Men: First Class itu dan mendengar logat British-nya yang sexy itu, kok rasa-rasanya seperti jatuh cinta ya? Hahaha… Padahal Harry Potter udah duluan nongol —termasuk Ron Weasley yang kental banget aksen British-nya. Tapi, kok rasanya biasa aja ya?

Entahlah. Yang jelas, (aksen British) James McAvoy – lah yang akhirnya membuka saya untuk (semakin) menyukai dan (akhirnya) menyadari kalau pria-pria idaman saya selama ini ternyata berasal dari negara-negara persemakmuran Inggris Raya, alias Britannia. :D

Take a note,

James McAvoy

James McAvoy. He’s a Scotland. (I love him, including his stunning accent).

Guy_Berryman

Guy Berryman. He’s a Scotland also. Oh ya. Saya juga suka bassist Coldplay yang satu itu. Karena dia ganteng? Hmm… yea, itu salah satunya. Hahaha… (hey! c’mon maaan! Who can deny his good-looking-face? Bahkan para personil Coldplay sendiri aja mengakui kegantengannya. Di info band Coldplay, saya lihat mereka menuliskan: “Guy Berryman – the very handsome man who play bass” :D —I’m agree dude!)

OK, saya suka Guy Berryman bukan cuma karena dia ganteng, tepatnya, bukan karena saya melihat dia ganteng. Tapi karena dia cool! Waktu itu saya melihat konser Coldplay dan… oh my gosh! I dun know what to say. Dia main bass, dengan gayanya yang kalem (dan mungkin seperti ga peduli teriakan para fans yang mengelu-elukan nama bandnya) lalu asik aja menikmati musik. Dia terhanyut dalam dunianya sendiri dan sepertinya… melebur bersama aliran musik itu sendiri. Wah! Kereeeenn…. ♥

Satu lagi, dia sebenarnya left-handed, tapi dia memutuskan bermain bass dengan tangan kanan. Trus, satu lagi (dari tadi “satu lagi” mulu!)… saya semakin suka waktu  melihat.. di salah satu lagu konser, dia mainin mini drum (saya lupa nama instrumennya) tapi dia tetap ga ngelepasin bass yang “ditenteng”-nya. Abis itu, jreeengg… main bass lagi… tetap dengan gaya cool-nya yang bikin melting itu. Hehehe… That’s what makes me love him more. Dia ganteng. Dia skillful. Tapi dia seperti ga peduli dengan kegantengannya itu. Dan sama sekali ga sok pamer sama skill-nya yang hebat itu dengan loncat sana loncat sini, tepe sana tepe sini atau… cool tapi kayak dibuat-buat biar terlihat cool (saya ga perlu mention nama band-nya di sini kan? ;) ).

Last, Chris Martin.

Chris Martin

He’s an England. Honestly, saya suka dia sejak pertama liat video klip Yellow. Tapi, entah kenapa tergila-gila-nya kok baru sekarang ya? Hehehe… Mungkin, karena saya baru me-review album terbaru mereka, Mylo Xyloto. Baru melihat aksi mereka di festival Glastonbury 2011. Baru setelah (semakin) menenggelamkan diri saya dalam dunia mereka dengan mengulik-ngulik semua tentang Coldplay di Youtube, Vimeo dan situs-situs sharing video lain. Ditambah, euforia British Addict yang ditimbulkan oleh James McAvoy sama saya. Ya sudahlah.

Dan, ga tau. Kenapa ketiga pria ini punya ciri khas yang nyaris sama yang ga saya sengaja untuk dimirip-miripkan: rambut coklat, mata biru (kecuali Guy Berryman yang punya mata coklat), brewok / shaggy (bekas cukuran di wajah), body atletis (saya suka cowo atletis, karena nunjukin mereka kuat dan err… mungkin bisa melindungi saya juga karenanya. Hehehe…), dan, mereka juga berasal dari negara-negara Britannia Raya —termasuk Robert Pattinson yang sebenarnya saya suka juga. Hihihi…

Laika

Gara-gara sebuah graphic novel yang aku baca, aku jadi tertarik meriset tentang Laika, anjing antariksa yang diceritakan di graphic novel itu.

Dulu—waktu Uni Sovyet dan Amerika berlomba-lomba maju secara tekhnologi—Amerika seperti dipecundangi ketika Sputnik berhasil diluncurkan ke luar angkasa. Lalu penguasa Uni Sovyet waktu itu, Nikita Kruschev ingin mempecundangi mereka sekali lagi dengan “memaksa” para ilmuwan di negaranya meluncurkan Sputnik II dalam waktu sebulan berikutnya. Bisakah kau bayangkan itu? Dalam waktu satu bulan! Karena Kruschev sepertinya ngotot sekali supaya peringatan 40 tahun revolusi Uni Sovyet bulan depan ditandai dengan peluncuran pesawat ulang alik. Maksa sekali!

Sejenius apapun para ilmuwan itu, mereka tetap tidak bisa mempersiapkan pesawat antariksa dalam sebulan. Apalagi Kruschev juga ngotot supaya dalam misi berikutnya ada makhluk hidup yang tinggal di dalam kapsul.

Akhirnya, para ilmuwan luar angkasa Uni Sovyet menyelesaikan Sputnik II—yang lebih merupakan proyek buru-buru—karena pesawat itu tidak diciptakan untuk kembali. Dan, makhluk tak berdosa yang harus menanggung kesombongan pemimpin Uni Sovyet itu adalah Laika. Seekor anjing kecil liar yang manis.

Sebelum menjadi anjing antariksa, dulunya Laika adalah anjing kecil liar yang sering berkeliaran di jalan-jalan Moskwa. Ia punya riwayat hidup yang cukup menyedihkan karena sejak dilahirkan ia harus hidup nomaden lantaran tidak ada yang sudi mengurusnya. Salah satu anak yang pernah mengurusnya bahkan pernah membuang Laika ke sungai karena tidak suka pada anjing itu. Setelah itu, Laika hidup menjadi anjing jalanan, yang tidak punya tuan, tidak punya rumah, tidak punya tempat untuk disinggahi.

Karena dianggap “sampah”, Laika beserta anjing-anjing liar lain ditangkap oleh dinas hewan Negara itu dan diserahkan ke badan luar angkasa Uni Sovyet demi object penelitian. Di situlah, perjalanan tragis Laika dimulai.

Seorang staff pelatihan anjing di badang antariksa, Yelena Dubrovsky, sudah menaruh hati pada Laika begitu pertama kali melihat anjing itu. Karena, ia memang benar-benar anjing yang sangat manis. Tapi Yelena tetap tidak bisa melakukan apa-apa demi menyelamatkan anjing itu. Kepahitan dan perjalanan hidupnya yang keras membuat Laika sangat haus kasih sayang dan menjadi sangat jinak ketika bertemu dengan orang lain.

Karena Laika juga adalah satu-satunya anjing yang dianggap paling tahan atas semua latihan-latihan gila di pesawat luar angkasa itu, ia pun terpilih sebagai satu-satunya anjing yang dikirim untuk menjelajahi luar angkasa dengan Sputnik II.

Sayangnya, sekali lagi, karena waktu yang sangat mepet dan deadline yang sangat terbatas, Sputnik II tidak diciptakan untuk kembali. Jadi pengiriman Laika ke pesawat itu sama seperti sebuah proyek untuk membunuhnya. Membunuh anjing kecil manis yang tak berdosa.

Sejujurnya, aku sangat sedih melihat gambar-gambar Laika dalam graphic novel yang aku baca ketika “pintu” kaca pesawat Sputnik II ditutup untuk segera diluncurkan. Meskipun itu hanya sebuah gambar, tapi aku sedih melihat ekspresinya menatap orang-orang di luarnya. Sementara ia terkurung di dalam kapsul sempit itu.

salah satu scene Laika di graphic novel yang aku baca

Mungkin dalam hati anjing kecil itu bertanya, mau diapakan aku? Kenapa kalian mengurungku? Aku inging bebas… ingin lepas… ingin bermain-main juga.

Dan setelah membaca graphic novel itu, aku pun tergerak untuk mencari foto-foto aslinya di internet. Dan ternyata kesedihanku semakin bertambah waktu melihat versi asli ia terkurung di dalam kapsul dan tidak bisa apa-apa. Aku bahkan sempat menangis melihat itu.

Kasihan dia. Kenapa harus anjing semanis dia yang dikorbankan? Kenapa bukan yang lain saja?

Tidak taukah kau? Anjing adalah sahabat paling setia yang kau punya melebihi manusia sekalipun. Manusia bisa mengkhianatimu, tapi anjing tidak.

 

**Menurut info resmi yang dikeluarkan badan antariksa Uni Sovyet waktu itu, Laika bertahan hidup selama 4 hari di luar angkasa sebelum akhirnya di-euthanasia dengan diberi makanan beracun. Tapi fakta yang sesungguhnya adalah, ia hanya bertahan 5 jam setelah peluncuran dan mati karena suhu yang sangat luar biasa panas di dalam kapsul.

Laika di dalam Sputnik II

Laika dalam Sputnik II sebelum peluncuran

Laika...

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 558 other followers