Author’s Introduction: Saya sangat menyukai Cloud dan Tifa di seri Final Fantasy VII, termasuk kisah tentang keduanya. Tapi Square Enix sepertinya juga sangat suka menggantung kisah para karakter Final Fantasy—termasuk Cloud dan Tifa—dan membuatnya tidak tuntas sehingga para penggemar dibiarkan terus penasaran. Jadi, fanfic ini ditulis cuma untuk “menyenangkan diri sendiri” aja (karena saya tidak suka penasaran). Terinspirasi dari plot game aslinya, Final Fantasy VII, dan dengan memasukkan beberapa adegan dari Advent Children, saya harap fanfic ini berguna untuk menjawab rasa penasaran yang sama dari kalian: para penyuka Cloud dan Tifa.
***
The Journey Ends
by Yulin Masdakaty
Prolog:
Namanya adalah Tifa. Tifa Lockhart. Dia adalah perempuan tercantik di kotaku, Nibelheim. Aku menyukainya sejak lama. Sejak kali pertama aku melihatnya bermain di perkebunan bunga milik paman Albert.
Aku menyukai Tifa.
Bukan cuma karena ia cantik. Tapi karena ia berani. Waktu itu aku melihatnya menantang Bruno, anak laki-laki bertubuh besar dan tinggi, karena Bruno mendorong teman Tifa hingga jatuh dan cedera. Lalu Tifa menghajarnya. Hahaha… anak laki-laki gembul itu ternyata roboh cuma dengan satu pukulan.
Ahh, aku semakin menyukai Tifa. Tapi aku tak berani mengatakannya. Jadi, aku hanya bisa melihatnya dari jauh saja, seperti ini.
Cloud menutup buku hariannya. Cukup satu catatan untuk hari ini. Catatan yang biasa ia tulis setiap kali gelombang aneh dalam hati itu muncul. Gelombang yang lebih mirip getaran gempa berskala richter dan membuatnya seringkali nelangsa.
“Cloud, sedang menulis apa?” tiba-tiba paman Albert muncul dari belakang. Kehadirannya menghangatkan sehingga setidaknya Cloud merasa aman kalau-kalau rasa gugupnya terbaca.
Paman Albert duduk di samping Cloud seolah tak peduli bocah laki-laki itu menjawab pertanyaannya atau tidak. “Kau menyukai anak itu ya?”
Kena kau!
“Haa?” Wajah Cloud merah padam. Bukan marah tapi malu. Ia ketahuan.
“Hahaha… dua hal yang tak bisa disembunyikan manusia, Cloud. Marah dan cinta. Yang paling kuat gejolaknya adalah yang terakhir. Ia serupa gejala sakit jiwa sehingga manusia seringkali kesusahan menangani efek yang ditimbulkannya. Dan kau. Mudah sekali membaca kalau kau menyukai anak perempuan itu.” Paman Albert berbicara bijak sekali. Untung yang berbicara adalah dia, orang yang kepadanya Cloud sering berkeluh kesah dan bercerita banyak hal. Orang yang Cloud percaya karena selalu mengayomi tanpa terkesan menghakimi. Orang yang bagi Cloud adalah ayah sebenarnya daripada ayah aslinya—yang pergi entah kemana. Kalau yang berbicara bukan dia, mungkin Cloud akan melekatkan topeng untuk menabalkan malunya selama berminggu-minggu.
“Kudengar Tifa akan pergi ke gunung Nibel minggu ini,” paman Albert melanjutkan lagi. Ia tetap tak peduli meski Cloud menjawab atau tidak.
“Haa? Untuk apa?” Ahh… akhirnya bocah pemalu itu penasaran juga. Paman Albert tersenyum simpul. Seolah merayakan kemenangan dari taruhan berani-tidaknya Cloud bertanya.
“Katanya, ia ingin memastikan apakah ibunya sudah sampai ke surga atau tidak. Hahaha… Tifa yang polos. Dia benar-benar berpikir ibunya pergi ke surga melalui gunung Nibel.”
Cloud hanya terdiam. Gunung Nibel? Bukankah itu daerah yang sangat berbahaya? Apalagi untuk anak-anak seperti kami. Ia merenung dalam hati.
“Ahh, sudah sore. Paman lupa harus ke tempat bibi Mae,” paman Albert beranjak berdiri. Sebelum memutar langkah, ia menepuk pundak Cloud hangat dan dalam, “Cloud, kalau kau menyukainya maka kau harus mengatakannya. Sebelum semua terlambat dan kau tak lagi punya kesempatan untuk sekedar mengutarakan niat.”
Cloud mengangguk pelan. “Iya, terimakasih paman,” sahutnya.
∞∞
Sabtu pagi. Bersama ketiga teman laki-lakinya, Tifa mulai mendaki ke gunung Nibel. Sebenarnya ketiga bocah laki-laki itu tidak punya nyali yang cukup untuk berpetualang ke tempat yang lebih sering mereka dengar versi seramnya ketimbang versi bagusnya. Hanya saja, karena malu dikatakan pengecut dan demi sebuah gengsi agar dikatakan pemberani, jadilah mereka mengikut Tifa sekarang.
Di tengah perjalanan, memasuki hutan lebat yang semakin rapat, nyali mereka yang sedikit itu semakin ciut. Suara burung hutan dan jangkrik liar mengintimidasi mereka.
“Kami tidak bisa menemanimu lebih jauh, Tifa. Hutan ini menyeramkan. Kita pulang saja,” ajak ketiga bocah itu.
“Tidak! Aku harus memastikan ibuku sudah sampai di surga atau tidak!” Tifa berkeras.
“Ibumu sudah meninggal, Tifa. Dan ia tidak lewat gunung ini. Kau tidak perlu mencarinya. Ia sudah damai di surga sekarang.”
“Tidak! Aku harus mendaki puncak Nibel!”
“Ya sudah. Kalau itu maumu, terserah. Kami sampai di sini saja. Kami mau pulang. Tempat ini benar-benar menakutkan,” ketiga bocah itu lalu meninggalkan Tifa sendirian.
Hutan yang semakin rapat menghambat sinar matahari yang jatuh. Degradasi bayangan dari pohon-pohon menghasilkan ilusi. Tifa mulai gentar. Air matanya mulai menggantung.
“Aku tidak boleh takut. Aku tidak boleh takut. Aku harus bertemu ibu.” Ia mengatakan itu berulang-ulang seperti mantra. Semakin lama ia merapal semakin kencang. Beban air matanya yang menggantung mulai terasa berat dan akhirnya menjebol tanggul pertahanan. Tifa menangis. Tapi ia tetap mendaki. Dan merapal kalimat sakti itu.
“Tifa…”
Tifa berhenti sejenak. Kali ini bukan hanya jantungnya yang berdebar dan bergetar, tapi juga lututnya. Bibirnya. Tangannya. Tubuhnya. Ia ketakutan setengah mati. Siapa yang memanggil namaku? Apa itu hantu? Ia memanggil namaku. Aku takut… Tifa melanjutkan berjalan. Kali ini sambil memejamkan mata.
“Tifa…”
Jangan ganggu aku. Jangan ganggu aku. Aku janji tidak akan mengganggu wilayahmu. Aku hanya ingin bertemu ibuku. Aku janji… Tifa semakin takut. Ia bergidik. Hantu itu mendekat.
“Tiii…”
Tifa merasakan sentuhan lembut yang nyaris melayang di atas bahunya. “Tidaaakkk!! Jangan ganggu aku!! Aku hanya ingin bertemu ibuku! Aku janji, selepas bertemu dengannya aku akan segera turun dan tidak akan melewati tempatmu ini lagi!!” Tifa menjerit. Tangisnya membuncah.
“Hei… hei… ini aku! Cloud!” sentuhan lembut yang nyaris melayang tadi membalikkan bahu Tifa. Tifa berhenti menangis.
Spontan ia langsung melompat memeluk Cloud. Selama beberapa detik sebelum keduanya tersadar lalu tersipu malu-malu.
“Maaf, aku pikir kau hantu,” Tifa memecah kebekuan yang lebih mirip keadaan-salah-tingkah diantara keduanya.
“Apa menurutmu ada hantu yang setampan aku?” Cloud masih belum bisa berpikir jernih sejak Tifa memeluknya tadi. Kekacau-balauan sinergi antara kaget, senang, suka, deg-degan, dan semua ke-chaos-an perasaan itu masih bergejolak kencang sehingga jadilah ia mengeluarkan guyonan jayus seperti itu.
“Sekalipun kau tampan tapi kalau kau hantu tetap saja tak berarti bagiku,” Tifa terkekeh. Ia harus mengakui kalau kehadiran Cloud sedikit banyaknya membantu meredakan takutnya.
Mereka berjalan semakin naik mendekati puncak Nibel. Sambil berjalan mereka mengobrol dan bercerita banyak hal. Perjalanan yang semakin lama semakin membuat akrab.
Di ujung perbatasan ada jembatan gantung yang menghubungkan dua jalan kecil di hutan Nibel yang terbelah karena sungai Logan. Jembatan itu sangat sempit sehingga mereka harus melaluinya satu-satu. Tifa mendahului. Di pertengahan, jembatan itu runtuh karena kayunya yang tua lapuk dan rapuh. Tifa terjatuh. Sebelum jatuh Cloud sempat ingin meraihnya tapi terlambat. Gravitasi ternyata lebih cepat menarik Tifa jatuh jauh ke bawah daripada ketangkasan dan kelincahan tubuh Cloud bergerak.
Tifa koma berhari-hari karena itu. Sedangkan Cloud hanya cedera ringan. Ayah Tifa berang bukan main. Ia menuduh, “Kaulah penyebab semua ini! Kau yang mengajak Tifa bermain ke dalam hutan!”
Cloud hanya diam. Ia merasa bersalah. Rasa bersalah yang teramat sangat sehingga tidak berani dan malu bertemu dengan anak perempuan itu. Berminggu-minggu. Berbulan-bulan. Bertahun-tahun. Pun setelah Tifa pulih dan kembali ceria seperti sedia kala.
Aku tidak berguna. Aku tidak bisa melindungi orang yang kusayangi. Ia meyakinkan itu pada dirinya sendiri yang membuatnya semakin jauh… semakin hilang… dari bayangan Tifa.
***
SUDAH BEBERAPA TAHUN sejak kejadian itu. Tifa kini tumbuh menjadi remaja yang semakin cantik dan diidolai banyak cowok di Nibelhaim. Cloud tau itu sehingga seringkali ia harus menahan sendiri cemburunya yang setengah marah waktu melihat cowok-cowok penggemar Tifa mengiriminya bunga atau surat cinta. Tapi bukankah ia sudah terlanjur menghilang dari bayangan cewek itu? Jadi, ia hanya bisa melihatnya dari jauh saja. Seperti dulu.
Suatu kali Cloud mendengar kalau grup pemberontak Avalanche di Midgar sedang membuka lowongan untuk calon Soldier. Sebuah pekerjaan prestisius yang banyak diidam-idamkan anak laki-laki karena para Soldier biasanya terlihat sangat keren. Mereka berpakaian seperti para kesatria sambil menenteng pedang atau senjata api modern yang membuat mereka semakin terkesan cool. Postur tubuh mereka atletis karena dibentuk latihan demi latihan berat maupun frekuensi berjibaku dengan para penjahat.
Cloud tertarik menjadi Soldier. Karena ia ingin membuat Tifa terkesan—syukur-syukur Tifa bisa jatuh cinta karena itu.
Pada malam terakhir sebelum keberangkatannya ke Midgar ia memberanikan diri mengajak Tifa bertemu di menara air.
Cloud sengaja tiba duluan karena tak ingin Tifa menunggu.
“Hai, kau sudah lama menungguku?” Tiba-tiba Tifa mengejutkan lamunannya.
“Tidak,” Cloud tersenyum.
“Wah… sudah lama tidak bertemu ternyata kau benar-benar semakin tampan!” Tifa sumringah. Ahh, wajah cantiknya semakin merona. Cloud masih tersenyum. Ia senang. Itu berarti Tifa memperhatikannya juga.
“Kau juga. Semakin cantik.” Cloud berkata jujur.
“Hei… kita ke sini tidak untuk saling memuji kan? Hahaha… Baiklah. Kau ingin mengatakan apa?”
Tiba-tiba saja Cloud merasa lidahnya kelu. Tiba-tiba saja rangkaian kata-kata yang sudah disusun rapi sejak awal tibanya tadi di taman ini mendadak beku. Ia kaku. Dicecar sedemikian frontal dan tanpa basa-basi oleh Tifa membuatnya mendadak bodoh.
“Cloud?” Tifa hanya ingin memastikan kalau Cloud mendengar pertanyaannya tadi. “Kau ingin mengatakan apa?”
Aku menyukaimu. Aku mencintaimu!
“Aku akan pergi ke Midgar.”
“Hah? Untuk apa?” Tifa tampak terkejut. Ia begitu transparan sehingga Cloud bisa melihat segenap ekspresi yang ada padanya. Tifa yang polos, benar kata paman Albert. Ia tidak memiliki kamuflase dan kepura-puraan sehingga kau seolah bisa menatap langsung ke dalam hatinya yang jernih.
“Aku ingin menjadi Soldier.”
“Untuk apa?” Tifa mencecar terus.
“Aku ingin menjadi kuat dan bisa melindungi orang-orang di Nibelheim.”
Tifa terdiam. Ia menunduk. Seberkas senang dan sedih yang timbul bersamaan. Senang, karena baru saja bertemu Cloud—yang makin tampan—setelah “terpisah” bertahun-tahun. Sedih, karena harus berpisah lagi dengan Cloud setelah baru saja merasakan euphoria kegembiraan itu.
“Berapa lama kau di Midgar?” tanya Tifa. Ia masih menunduk.
“Aku tidak tau. Sekarang aku empat belas. Mungkin aku akan bertemu kau lagi ketika aku dua puluh, hehehe…” Cloud mencoba melucu. Tapi Tifa tidak tertawa.
“Bagaimana kalau aku membutuhkanmu?” Tifa akhirnya menegakkan kepalanya. Kali ini ia menatap langsung menuju kornea mata Cloud yang bening biru.
“Aku…” Akhirnya bola mata keduanya bertemu. Berhadapan secara lugas dan gamblang yang meruntuhkan semua kepura-puraaan.
“Aku akan selalu ada saat kau butuh. Selalu ada saat kau dalam bahaya. Aku akan selalu melindungimu!” Cloud berjanji. Dalam hati ia memperkuat janji itu dengan bersumpah.
“Kau janji?”
“Aku janji!” tegas Cloud sambil menyematkan cincin sederhana dari plastik—yang beberapa waktu lalu ia tempa sendiri—ke jari Tifa. Tifa hendak bertanya apa maksudnya tapi Cloud buru-buru mengkonfirmasi. “Ini bukti kalau aku berjanji padamu, hari ini,” katanya.
Tifa menunduk. Berusaha menyembunyikan air matanya yang mulai membendung.
“Sampai ketemu lagi Tifa.” Tiba-tiba Cloud memeluk. Hangat dan dalam. Selama beberapa menit dan tidak ada kata-kata. Cuma sebuah komunikasi verbal yang cukup mewakili jutaan kata-kata dan ekspresi dalam hati. Setelah itu Cloud berbalik dan tidak melihat lagi ke belakang.
~~¤~~
PART – 1
Hari ini tepat satu tahun sejak Cloud mempamitiku di menara air. Kenapa waktu rasanya cepat sekali berlalu ya? Aku merasa ia baru pergi kemarin malam… tapi, ah. Apa ini? Kenapa aku tiba-tiba merasa aneh? Apa aku merindukannya?
Hmmm… mungkin saja.
Tidak. Bukan mungkin saja. Tapi, ya! Aku merindukannya. (“_)
Cloud… apa kabarmu sekarang?
Tifa menutup buku hariannya. Sudah setahun juga sejak ia tiba-tiba merasa rajin menulis di buku harian. Padahal sebelumnya tidak pernah. Jangankan menulis, terpikir untuk membeli barang itu saja tidak pernah. Semuanya terjadi secara otomatis. Begitu saja. Sejak kepergian Cloud tahun lalu ia mendadak merasa satu sisi tiba-tiba hilang. Sesuatu yang hilang itu kemudian ia coba temukan dengan menuangkannya menjadi curhatan-curhatan di lembar catatan harian. Tapi itu juga tidak terlalu berhasil. Ahh, nilai seseorang memang terasa berarti justru ketika ia tidak ada.
Tifa menerawang jauh. Menembus batas cakrawala matahari senja yang menerobos dari jendela kamar. Seminggu lagi tim SOLDIER dari Avalanche akan datang menginspeksi reaktor mako di gunung Nibel. Mereka mencurigai reaktor mako telah disalahgunakan oleh perusahaan Shinra untuk sebuah proyek rahasia ilegal. Tifa ditunjuk menjadi guide bagi tim Soldier itu karena ia dianggap orang yang paling paham soal rute menuju gunung Nibel. Meskipun Tifa cuma melewatinya setengah waktu kecil dulu tapi ia masih ingat betul: reaktor mako berada di awal “pintu masuk” menuju gunung Nibel.
∞∞
Hari yang dijanjikan tiba. Tifa sengaja tiba duluan di gerbang pembatas di pinggir kota. Ia terlalu senang hari ini. Kabar kedatangan tentang para Soldier Avalanche itu setidaknya memberinya harapan akan bertemu Cloud lagi. Tapi, setelah utusan dari Avalanche benar-benar tiba, Tifa kecewa. Tim dari Avalanche hanya diwakili oleh dua Soldier Kelas Satu—yang sudah diakui kehebatannya, Sephiroth dan Zack. Sisanya hanya ada dua prajurit infantri biasa yang mengenakan balaclava—penutup kepala ala ninja yang sering dipakai para polisi rahasia.
Tifa mengantar tim dari Avalanche itu menuju reaktor mako tapi ia hanya mengantar mereka sampai di pintu gerbang. Selama tim itu menyelidiki mako, ia menunggu di luar. Seorang prajurit infantri yang sejak tadi mengawal mereka ternyata sedang berjaga-jaga di luar.
“Hei!” panggil Tifa. Prajurit itu menoleh.
“Ya, kau!” Tifa mendekati prajurit itu.
“Ada apa?” tanya si prajurit.
“Kau dari Avalanche juga kan? Apa kau mengenal Cloud?”
“Hah?” prajurit itu seperti kebingungan.
“Cloud. Anak laki-laki yang melamar menjadi calon Soldier di Avalanche. Dia juga berasal dari Nibelheim. Apa kau kenal dia?”
Si prajurit hanya diam. Mungkin dia benar-benar tidak mengenal Cloud, pikir Tifa.
“Kenapa?” tiba-tiba prajurit itu bertanya.
“Hmm… tidak apa-apa. Aku pikir dia juga ikut bersama kalian ke sini,” ujar Tifa sambil berlalu. Raut wajahnya kecewa. Ia meninggalkan si prajurit infantri sambil menunduk sedih. Si prajurit hanya memandangi Tifa yang menjauh.
Tim Avalanche selesai menginspeksi. Mereka lalu kembali ke kota. Semua, kecuali seorang Soldier bernama Sephiroth. Ternyata ia masih menemukan beberapa kejanggalan menyangkut proyek illegal Shinra sehingga ia memilih tetap tinggal. Sephiroth menghabiskan waktu berhari-hari di ruang bawah tanah reaktor dan membaca hasil penelitian yang ditulis oleh Professor Gast dan Hojo. Apa yang dibacanya ternyata membuatnya marah luar biasa. Amarah yang luar biasa itu seperti magma yang dipendam di bawah gunung berapi selama ratusan tahun. Ketika tak tertahan lagi, maka meledak dengan dahsyatnyalah ia. Sephiroth menyerang seluruh penjuru kota Nibelheim dan membunuh semua penduduknya. Termasuk ayah Tifa—Tifa sedang tidak ada di Nibelheim waktu itu makanya ia selamat.
Ketika Tifa tiba, ia begitu histeris melihat tubuh ayahnya sudah terbujur kaku bersimbah darah. Dengan keberanian bulat teguh yang terkumpul karena ambisi membalas dendam yang menggebu-gebu Tifa mengejar Sephiroth sampai ke reaktor mako. Di reaktor, ia menemukan Masamune—pedang panjang milik Sephiroth—tergeletak di samping tubuh presiden Shinra yang juga sudah tak bergerak. Tewas.
Tifa memungut Masamune itu dan mencoba menghajar Sephiroth dari belakang. Tapi, tentu saja. Gadis itu bukan lawan yang sebanding. Dengan mudah Sephiroth segera merebut pedangnya dan menusuk tubuh Tifa. Untungnya Soldier yang lain, Zack, tiba-tiba menginterupsi sebelum Sephiroth melanjutkan aksi berikutnya. Tifa selamat meski ia sekarat. Ia hendak bergerak lagi, ahh… ternyata kesedihan yang teramat sangat itu bisa menjadi bius yang membuat orang lupa akan kesakitan. Tifa hendak menyerang lagi, tapi prajurit infantri yang kemarin berbincang dengannya di luar reaktor tiba-tiba menahan. Tifa terkesiap beberapa saat. Ia kaget begitu melihat prajurit itu melepas balaclava-nya.
“Cloud…?” Tifa tergugu. Ia terlalu kaget dan tidak menyangka. Atau terlalu senang?
“Kau menepati janjimu juga,” kata Tifa sebelum ia pingsan dan tidak mengingat apa-apa lagi.
***
PART – 2
Aku belum bisa melupakan insiden di reaktor mako beberapa tahun lalu. Kejadiannya begitu menyakitkan sampai-sampai kejadian itu masih harus terus membayangi sampai hari ini. Siapa yang menyangka kalau di insiden itu juga aku harus bertemu dan kehilangan orang yang paling kukasihi sekaligus. Baiklah, aku memang senang bertemu Cloud—yang ternyata bersembunyi di balik seragam prajuritnya. Tapi kematian ayahku masih terasa menyakitkan. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Ahh…
Dan, Cloud… aku tidak tau apa yang terjadi padanya kini. Kenapa ia bukan seperti Cloud yang ku kenal dulu? Ia semakin asing… terutama sejak, ahh… aku benci mengatakan ini, tapi… aku tidak suka melihat Cloud yang semakin akrab dengan Aerith. Apakah aku cemburu? Kurasa ya. Tapi, aku tidak bisa mengatakan ini.
Aku mencintai Cloud.
Dan, Cloud sedang bingung sekarang. Ia tidak tau apa yang dia lakukan karena sel-sel Jenova yang disuntikkan Profesor Hojo membuat Cloud membentuk kepribadian yang ambigu. Percobaan yang dilakukan Profesor Hojo memang mendatangkan musibah. Sebagian besar orang yang diuji coba meninggal dunia. Kecuali Zack, Soldier Kelas Satu yang hebat itu. Tapi, aku sedih karena Zack harus meninggal juga. Bukan karena percobaan. Tapi karena tentara Shinra membunuhnya waktu ia mencoba meloloskan diri bersama Cloud beberapa waktu lalu.
Dan Aerith. Meski aku cemburu karena melihat ia mendekati Cloud, aku harus mengakui kalau ia adalah wanita yang baik. Ia sangat baik dan ramah. Kelembutan hatinya sudah membuatnya “mengorbankan diri”. Sephiroth menusuknya dari belakang ketika ia sedang berdoa di gereja.
—Catatan diari Tifa setelah Geostigma mulai mewabah di Planet Gaia—
Sudah hampir dua tahun ketika para pasukan Avalanche menyerang kota Midgar. Kota itu mirip kota mati yang cuma berisi puing-puing bangunan yang hancur. Para penduduknya pun adalah orang-orang yang putus harapan dan hanya tinggal menunggu mati. Semua karena penyakit Geostigma yang menyebar sangat cepat—terutama pada anak-anak.
Sejak Nibelheim dihancurkan, Tifa yang memang sudah tidak punya keluarga siapa-siapa lagi memutuskan bergabung dengan grup pemberontak Avanche dan pindah ke kota ini. Bersama Cloud, ia mendirikan sebuah bar bernama 7th Heaven untuk menggantikan bar lamanya yang ikut hancur. Bersama Cloud juga, Tifa ikut membangun sebuah usaha yang dinamakan Strife’s Delivery Service, sebuah jasa pengiriman barang. Tapi, meskipun begitu, Cloud sangat jarang tinggal di 7th Heaven.
Semuanya berubah. Sejak Aerith meninggal. Sejak Geostigma mewabah. Sejak teman-teman terdekat meninggal satu-satu. Cloud… dimanakah dia sekarang? Tifa sering bertanya itu. Tapi hanya dalam hati.
Di bar 7th Heaven, Tifa tinggal bersama dua anak yatim piatu, Denzel—bocah ini juga terkena Geostigma—dan Marlene. Tapi Marlene sudah diangkat menjadi anak oleh Barrett. Sementara Denzel… Cloud menemukannya di reruntuhan Sektor 7 ketika Cloud sedang menginspeksi sisa-sisa gedung Shinra yang telah runtuh. Ketika ditemukan, Denzel sudah tergeletak pingsan di dekat Fenrir milik Cloud. Ia pingsan karena Geostigma-nya yang mendadak kambuh. Sebelum pingsan, anak itu sempat menghubungi nomor telepon 7th Heaven karena itu adalah satu-satunya nomor yang bisa dihubungi pasca penyerangan kota Midgar. Bukan. Karena itu adalah satu-satunya nomor yang tertera di list panggilan tak terjawab di ponsel milik Cloud.
“Ikutlah bersamaku, nak,” kata Cloud sambil menaikkan Denzel ke belakang motor besarnya. “Tifa memintaku untuk membawamu juga,” sambung Cloud lagi. Ia memegang tangan Denzel yang bergetar karena lemah dan tetap menahan seperti itu sampai mereka tiba di 7th Heaven.
∞∞
Suatu ketika di hari lain, Tifa mengunjungi gereja milik Aerith bersama Marlene. Sekedar ingin berkunjung. Dan melihat-lihat. Syukur-syukur bisa sekalian merasuki kenangan tentang Aerith yang lembut, teman lama yang pernah ia cemburui dulu. Dan Marlene, ahh… anak itu menggemaskan sekali. Meskipun masih kecil, tapi Marlene memiliki kepedulian yang sangat besar terhadap orang-orang di sekitarnya. Setiap hari ia merawat Denzel yang menderita Gesotigma dengan telaten. Pun dengan Cloud yang tidak pernah ia temui lagi. Marlene begitu rindu sehingga ia menolak waktu Tifa mengajaknya pulang.
“Aku tidak mau pulang! Aku ingin bertemu Cloud!” sahutnya lantang dan berkeras tetap tinggal.
Tifa… ia tidak bisa menentang Marlene kalau sudah begini. Ya sudah. Tifa menemani Marlene bermain di ladang bunga—yang ditanam Aerith dulu—di sekitar gereja.
Ketika Marlene asyik mengagumi bunga-bunga milik Aerith, seorang pria masuk dan mendobrak pintu gereja dengan keras. Marlene bergegas menuju pintu tapi Tifa segera menahan. Itu bukan Cloud! Tapi, entah siapa aku juga tidak mengenal.
Pria itu meracau dan terus mencari-cari sesuatu yang ia sebut dengan “ibu”.
“Ibu siapa? Tidak ada siapa-siapa di sini!” jawab Tifa ketika pria itu terus mendesak.
“Baiklah, kalau gitu, bagaimana kalau kita bermain saja? Pasti sangat menyenangkan!” ajaknya.
Bermain, tentu saja bermain yang ia maksud adalah bertarung. Darimana ia tau kalau Tifa juga memiliki kemampuan bertarung yang tidak biasa? Entahlah.
Tifa mencoba melawan. Tapi, bagaimanapun, ya bagaimanapun, ia bukan lawan yang seimbang. Pada akhirnya ia harus menyerah setelah dikalahkan dengan Limit Break, tekhnik bertarung paling mematikan dari Loz, pria itu.
Loz meninggalkan Tifa yang sekarat di ladang bunga dan membawa Marlene dan material milik Cloud. Ia membawa anak itu ke Ajit, yang juga disebut Forgotton City, tempat bos-nya Kadaj dan seorang teman yang lain, Yazoo, membawa anak-anak lain yang terkena Geostigma untuk dicuci otaknya.
Ketika Cloud akhirnya tiba di gereja, betapa terkejutnya ia ketika melihat Tifa sudah tergeletak di ladang bunga. Tidak biasa-biasanya gadis itu terbaring tak berdaya—karena ia sangat kuat dan mandiri.
“Tifa! Tifa!” panggil Cloud dengan cemas beberapa kali sambil mendekap Tifa dalam pelukannya.
Aku mohon jawab aku! Cloud sangat ketakutan. Ia takut kalau lagi-lagi ia akan kehilangan orang yang sangat ia kasihi. Lagi.
Tapi Tifa tidak menjawab.
“Tifa!!” Cloud mengguncang tubuh gadis itu lebih keras.
Setelah memanggil beberapa kali akhirnya Tifa sadar. Dan menjawab meski dengan suara yang sangat lemah.
“Siapa yang melakukan ini?” tanya Cloud. Nada suaranya masih menunjukkan kekhawatiran luar biasa.
“Aku tidak tau. Ia tidak menyebutkan nama,” jawab Tifa sebelum akhirnya ia pingsan kembali.
Ahh, de javu. Kejadian yang sama ketika Cloud menemukannya sekarat waktu mencoba menyerang Sephiroth di reaktor mako dulu. Kejadian itu berulang kembali.
***
PART – 3
Bagaimanapun, aku harus berterimakasih kepada Aerith.
(Terimakasih Aerith)
Karena—meskipun sudah meninggal—tapi keberadaannya masih tetap menemani. Ia membantu banyak hal. Ia membantu memberikan semangat untuk Cloud dengan kenangan manis yang ia ciptakan dulu. Dan, sekarang aku tidak lagi menganggapnya competitor yang harus dicemburui. (Mungkin ia juga sudah bahagia bersama Zack, pacar pertama—dan mungkin kekasih abadinya—sekarang. Di surga.)
Terimakasih Aerith, karena sudah membantu mengembalikan semangat Cloud dan memberinya cara pandang yang lain. Terimakasih juga karena sudah membantu menurunkan hujan yang menyembuhkan Geostigma. Kau bisa melihat. Kini semua orang bahagia.
Terimakasih, ibu. (Ahh, aku harap kau tidak marah kalau aku ikut-ikutan memanggilmu ibu juga! Hehehe… Salam kepada Zack. Kalian adalah teman yang baik!)
Tifa menutup buku hariannya. Cukup satu catatan untuk hari ini.
~~¤~~
Epilog:
Pinggiran kota Midgar Edge.
Midgar sedang dibangun kembali. Para penduduknya seolah menemukan semangat yang baru kembali. Sejak hujan penyembuh dari Aerith turun. Sejak semua musuh yang masih tersisa dari generasi Sephiroth dihabiskan.
Dan di atas tebing di pinggir kota itu, Cloud sedang berdiri. Memandang ke arah kota Midgar yang baru di bawahnya. Kota itu kini semakin tumbuh bergairah. Semakin hidup.
Cloud tersenyum. Bebas. Lepas. Sudah lama sekali rasanya ia tidak tersenyum sebebas itu. Dulu, ketika sedang bertarung melawan monster Sin Bahamuth yang menghancurkan sisa-sisa kota Midgar, ia pernah mengatakan separuh bebannya terasa lepas kepada Tifa.
Kini, separuh beban yang mungkin masih tersisa itu sudah sepenuhnya lepas.
Ia merasa begitu bebas.
“Hei, Cloud! Kau mengajakku ke sini untuk apa?” Tifa yang tiba-tiba bertanya menyentakkan lamunannya.
“Eh?”
Tifa tersenyum. Cloud semakin tersenyum melihat gadis kesayangannya itu tersenyum.
“Tifa, kau masih ingat ketika aku mengajakmu bertemu di menara air dulu? Ketika kita masih kecil?”
“Ya, tentu saja. Itu kan saat pertama dan terakhir aku melihatmu setelah bertahun-tahun. Bagaimana aku bisa lupa?”
“Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu waktu itu. Sama seperti saat ini,” Cloud menatap Tifa serius. Tifa mendadak salah tingkah begitu melihat Cloud yang tiba-tiba serius. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Cloud melihat itu. Ternyata Tifa masih memakainya! Cincin berbentuk Fenrir—simbol yang hanya melambangkan personality Cloud. Cloud memberikan cincin itu kemarin dulu. Waktu ia akan kembali ke Midgar setelah menyelamatkan Tifa yang pingsan di reaktor mako.
Ia memberi cincin itu untuk mengganti cincin plastik yang pernah ia berikan kepada Tifa waktu kecil dulu. Sekaligus untuk memperbaharui janjinya. Cincin itu terbuat dari logam langka. Berbentuk Fenrir. Simbol kepribadiannya—karena hanya Cloud sendiri yang memakai simbol Fenrir. Cloud sendiri juga yang menyematkan cincin itu ke jemari Tifa, sama seperti yang pernah ia lakukan. Ahh, kenapa de javu sering sekali terjadi?
“Cloud?” Tifa bertanya lagi. Ia hanya ingin memastikan kalau Cloud mendengar pertanyaannya.
“Kau ingin mengatakan apa?”
Cloud tertegun sebentar. Tanpa disadari—Cloud hanya mengikuti instingnya, ia meraih jemari Tifa yang tersemangat cincin Fenrir pemberian Cloud dulu.
“Tifa, aku menyukaimu. Aku mencintaimu!”
Aneh. Kali ini Cloud mengatakannya langsung secara lugas. Tidak ada lagi tembok yang menghalangi atau membebaninya.
“Apa?”
“Aku mencintaimu, Tifa!” ulang Cloud lagi. Sembari itu ia mendekatkan wajahnya. Lalu mencium Tifa. Hangat. Lembut.
~~END~~
Author’s Note: Kyaaaa….!! Akhirnya fanfic ini selesai juga! Sebenarnya aku ingin menulis lebih banyak lagi. Dan menambahkan detail-detail yang lebih rinci lagi. Tapi, karena keterbatasan waktu (aku bukan bermaksud sok sibuk… tapi aku memang benar-benar sangat sibuk karena harus mengerjakan banyak artikel lain!!) jadilah fanfic ini ditulis sebegini saja.
Fanfic ini hanya “dikerjakan” dalam dua hari. Hari pertama, sejak Shii mengundangku untuk mengikuti event menulis fanfic di Facebook, dan hari terakhir, sebelum batas pengiriman fanfic berakhir. Hahaha… Makanya, di hari terakhir itu, jadilah aku mengerjakan sisa tulisan ini dengan sangat ngebut. (Maaf, kalau hasilnya tidak maksimal yaa…)
Sekali lagi, aku harap, fanfic ini juga bisa memuaskan kalian: para penyuka Cloud dan Tifa. (^___^)v
::Their comments..