Pertanyaan.

Banyak temanku yang bertanya, “Kenapa nggak mau pacaran dari dulu, Lin? Padahal kan banyak yang naksir. Yang kaya… yang pinter… yang tampan…” dan mereka mulai menghitung satu per satu cowok yang (katanya) pernah suka aku.

Beberapa hari yang lalu pertanyaan yang sama diulang kembali. Kali ini daftarnya ditambah, “Sampe umur segini… masa nggak mau nyoba pacaran sekali aja?” Aku mencoba mengelak dengan bercanda. Tapi mereka menangkis reaksiku dengan jawaban serius dan muka yang tak kalah serius.

Hmm, well, seingatku aku pernah menjawab pertanyaan yang itu-lagi-itu-lagi kemarin dulu. Tapi, entahlah. Aku tidak tau apa mereka mengingat jawabanku atau tidak. Jadi, akhirnya, kuulang kembali jawaban itu. “Aku tidak mau kompromi dengan hati. Kalau aku tidak suka, akan kukatakan tidak suka. Kalau tidak cinta, maka tidak akan kujalani hubungan itu—meskipun orang bilang cinta bisa tumbuh karena waktu. Terima kasih, tapi tidak bagiku. Aku tidak mau menipu orang lain cuma karena ingin mencoba pacaran. Tidak baik bikin orang patah hati. Tidak baik. Tidak baik memainkan perasaan orang lain dan membuatnya luka. Tidak baik. Jadi… begitulah. Aku tidak mau kompromi soal hati. Dan, lagipula, aku belum menemukan yang pas. Itu saja.” Aku menyudahi jawabanku tak kalah seriusnya dengan mimik muka teman-temanku yang menjawab dengan diam. Diam yang panjang sekali.

Frans.

Namanya Frans. Dia temenku waktu di SMP dulu. Dulu, waktu yang lama sekali untuk membongkar kembali kenangan masa lalu.

Aku tersenyum ketika melihat status dan fotonya yang baru di Facebook hari ini. Dia sudah menikah. Ahh, lucu sekali. Satu demi satu teman-teman sealmamaterku seperti dikejar momok bernama “kewajiban menikah” sehingga, aku tidak tau apakah mereka benar-benar siap atau cuma karena takut dilabeli anu-itu, mereka  memutuskan cepat-cepat menanggalkan status single. Dan menikah.

Melihat foto Frans hari ini, membuatku kembali kepada memori bertahun-tahun dulu. Ia adalah salah satu teman cowokku yang, tidak bisa dibilang dekat, tapi tidak bisa dibilang tidak dekat juga. Entah benar entah tidak, atau entah dia mau mengakui atau tidak, menurut beberapa temanku yang lain, dulu, ketika masih SMP, Frans sempat naksir aku. Cuma, yah, seperti biasa, aku memang cenderung tidak peduli setiap kali ada cowok yang naksir kepadaku. Sudah biasa.

Frans ini berwajah ‘lumayan’, dan aku baru menyadari itu hari ini. Hahaha… Yah, kan sudah kubilang, dulu aku tidak terlalu peduli, karena, bukan bermaksud sombong, dulu ada lumayan banyak cowok-cowok yang naksir aku sehingga aku tidak sempat-sempat memerhatikan mereka dengan fokus. Tepatnya, aku tidak terlalu memedulikan mereka. Frans ini juga tergolong pintar meskipun seringkali kepintarannya tertutupi oleh kenakalannya.

Ia pernah membantuku menjawab pertanyaan bahasa Inggris yang aku tidak tau. Waktu itu guru Bahasa Inggris (yang lumayan killer) mencercaiku berbagai pertanyaan terkait materi yang baru ia kasih, mungkin supaya jawaban-jawabanku bisa menjadi contoh referensi untuk murid-murid lain, karena, bukan bermaksud sombong lagi, aku termasuk salah satu murid p-i-n-t-a-r di kelas. Aduh, jadi nggak enak mengakuinya. Cih!

Pertanyaan pertama dan kedua bisa kujawab dengan mudah, Di pertanyaan ketiga, aku gelagapan. Aku tidak tau jawabannya. Mataku menyapu seluruh ruangan, berusaha menemukan jawabannya entah di sudut kelas. Di saat itulah mataku menangkap wajah Frans yang duduk 2 baris di depanku. Ia memiringkan tubuhnya, berusaha bersembunyi dari sosok ibu guru Bahasa Inggris yang berdiri di depan kelas, tapi wajahnya menghadapku. Ia menatapku. Mulutnya membentuk sebuah pola beberapa kali. Ia memberi tau jawabannya dengan suara berbisik. Aku seperti menemukan titik terang. Jawaban dari Frans langsung kulantangkan dan membuat ibu guru menyudahi pertanyaannya. Reputasiku sebagai murid pintar tidak jadi luntur hari itu. Karena bantuan Frans.

Itu adalah satu-satunya memoriku tentang Frans yang selalu lekat di kepala. Kejadian itu bahkan sudah berlalu lebih dari 13 tahun yang lalu, tapi rekamannya masih terbentuk dengan sangat jelas di ingatanku sampai hari ini. Aku masih bisa ‘melihat’ dengan jernih, seperti menonton kembali tayangan ulang kejadiannya ketika lamunanku kembali ke masa itu. Bagaimana Frans memiringkan badannya, pura-pura berkamuflase untuk mengelabui ibu guru  dan mengkomat-kamitkan pola jawabannya untuk memberi tau aku. Ahh, Frans. Semoga dia bahagia dengan pilihannya sekarang. Dia orang baik.

Foto Frans yg kucomot dari Facebook-nya tanpa dia tau. :D Yah, sekarang dia udah jadi polisi.

Foto Frans yg kucomot dari Facebook-nya tanpa dia tau. :D Yah, sekarang dia udah jadi polisi.

BoF

KEMARIN, saya iseng membolak-balik jurnal lama, bukan jurnal semacam catatan harian yang berisi keluh kesah atau curhatan pribadi, tapi catatan yang isinya memuat berbagai hasil wawancara, corat-coret tak beraturan tapi penting tentang narasumber, atau informasi-informasi lain yang ternyata sudah saya kumpulkan begitu banyak selama “bekerja” sebagai jurnalis lifestyle. Membuka dan membaca kembali tulisan-tulisan lama itu seperti menguarkan aroma masa lalu yang membuat saya tersenyum-senyum geli. “Ah ya, saya pernah menanyakan ini ya?”, “Wah, ternyata saya pernah mewawancarai si anu ya?” dan sebagainya. Dan di halaman sekian jurnal itu saya berhenti pada sebuah catatan yang setelah saya baca lekat-lekat ternyata membuat saya semakin tertawa geli. Tulisan gila tentang kumpulan “orang-orang gila”, yah setidaknya itulah kesimpulan yang saya dapat setelah membacanya. He-he-he… Tulisan itu bukan hasil rekaman saya, tapi tulisan salah satu “narasumber” yang saya tanya itu. Ah ya, dulu saya mendapat tugas mewawancara sebuah komunitas yang para anggotanya adalah teman-teman saya sendiri. Karena males nanya-nanya, jadilah saya cuma meminta mereka menuliskan sendiri, di jurnal saya, apa yang mereka ingin saya tuliskan tentang mereka. Toh mereka juga teman sendiri kok, begitu pikir saya waktu itu. Dan, kini, ketika membaca tulisan itu kembali, rasanya sayang sekali kalau “kegilaan” itu hanya saya simpan seorang diri. Karenanya, saya pun mencoba menuangkan hasil tulisan mereka itu di sini, berharap kalian, atau siapa saja yang membacanya, juga bisa tertawa geli atau minimal sedikit terhibur. Yah, inilah tulisan yang berupa tanya jawab, tentang BoF, sebuah komunitas… err, komunitas-yang-saya-juga-tidak-tau-komunitas-apa-itu di kota Medan.

Sok serius. Padahal mereka semua ini cuma lagi akting (!), biar bagus difoto.

Sok serius. Padahal mereka semua ini cuma lagi akting (!), biar bagus difoto.

BoF

Kapan berdirinya BoF?

Mustafa said: Selama bertahun-tahun kami terduduk dan akhirnya pada 22 Juli 2008 kami mampu berdiri seperti pithecanthropus erectus. *sigh*

BoF itu artinya apa sih?

Iman said: Arti BoF adalah… Best of Friends, Boys of Flowers, Boys of Fantasy, Bandit of Fantasy, dan lain-lain. Yah, intinya, biar gampang disebut aja. BoF!

Anggota-anggotanya ada berapa orang dan siapa aja?

Iman said: Saat ini yang aktif sekitar 9 orang, tapi sebenarnya ada 19.050 orang. Itu karena BoF punya hobi mengklaim. Bahkan Obama pun kami klaim jadi anggota BoF. :p

______

PS: BoF membuka kesempatan untuk anggota baru loh! Siapa saja yang berminat di’klaim’, silakan. Syaratnya nggak banyak, punya fantasi apa aja dan paling penting… siap gila! O(≧▽≦)O

Emangnya apa itu BoF? Ceritain secara lengkap!

Kiki said: BoF merupakan suatu komunitas yang terdiri dari orang-orang yang suka berimajinasi. Kami biasa menuangkannya dalam sebuah gambar-gambar manga, desain grafis, makanan (berhubung salah satu anak BoF berasal dari jurusan Tata Boga), dan lain sebagainya. *sigh*

Waktu kumpul kami biasanya hari Jumat ya… tergantung jadwal juga. Biasanya kalau ada waktu kosong kami ngumpul dan tempatnya nomaden, berpindah-pindah. Kadang di Hans Café UNIMED, kantin Pancabudi, rumah Iman dan kadang-kadang mencari tempat baru.

Iman said: Kadang-kadang kami ngumpul di tempat dosen, sekalian membangun silahturahmi yang sakinah, mawadah, warohmah… ck ck ck…

Mustafa said: Untuk aktifitas BoF saat ngumpul biasanya menggambar, tapi walaupun begitu, nggak semua anggota BoF bisa menggambar. Yang nggak bisa menggambar biasanya memberikan ide-ide untuk dituangkan ke bentuk gambar sebagai penyaluran fantasi. Karena yang paling penting di BoF adalah “fantasi” dan “persahabatan”. *cieeeehhh*

Iman said: Prestasi-prestasi yang pernah didapat BoF adalah Juara 2 Yonkoma (komik singkat) di Bunkasai USU tahun 2010 oleh salah satu anggota BoF, Gabby Mahdina.

Mustafa: (nggak mau kalah) Aku juga, aku pernah mendapat penghargaan di seminar Faber Castle. Dapat boneka lhooo… *bangga*

Khadafi said: Kayaknya itu bukan prestasi lah! (# ̄ー ̄#)

Kiki said: Kami juga suka berbagi informasi tentang anime-anime (kartun Jepang) yang asik dan bisa buat ketawa, “stress” nggak ada di kamus BoF.

Pernah dapat masalah internal nggak?

Kiki said: Kadang-kadang ada masalah-masalah intern di BoF, seperti kisah cinta antara anggota BoF. Iman sama Mustafa contohnya. Kadang Mustafa selingkuh sama Khadafi. *anteng*

Iman: Paok! Mana ada itu! (((p(>o<)q)))

Soal cita-cita dan target yang mau dicapai…

Mustafa said: Aku sekolah selama ini untuk jadi dokter, tapi masalahnya aku suka pingsan kalo liat darah. Masalahnya lagi aku nggak kuliah di kedokteran pula. Tapi kalo cita-cita yang sebenarnya pengen jadi komikus. Kalo nggak, jadi tukang gambar, kadang-kadang pengen jadi ustadz. Tapi ini nggak penting, yang penting adalah cita-cita BoF.

Slogan kami adalah “memasyarakatkan BoF dan mem-BoF-kan masyarakat”. Kalau bisa membentuk dunia jadi tulisan BoF, nggak bulat lagi. Tapi kayaknya nggak mungkin ya. Karena itu nggak mungkin, jadi kami hanya ingin meluncurkan sebuah roket… ups! Maksudnya meluncurkan sebuah manga yang bisa ditunjukkan ke seluruh pencinta komik, biar sekalian bisa dikenal di seluruh galaksi Bima Sakti.

Dokumentasi foto lama... yg bikin saya ngakak-ngakak tiap kali ngeliatnya. Hahaha... x))

Dokumentasi foto lama… yg bikin saya ngakak-ngakak tiap kali ngeliatnya. Hahaha… x))

____________
Sebuah catatan di awal 2011.

Scottish.

Aku tidak percaya kebetulan. Tapi ini terlalu absurd untuk disebut kebetulan.

Baiklah. Aku menyukai 3 pria, err… 5 sebenarnya. Tapi yang 2 lagi tidak masuk hitungan untuk kasus ini. Tiga, err, lima pria itu (secara berurutan aku “jatuh cinta” kepadanya) adalah: James McAvoy, Chris Martin, Christian Bale, Guy Berryman dan Gerard Butler. Semuanya berasal dari Britannia Raya. Tapi 3 diantaranya berasal dari negara yang sama: Skotlandia.

Well, aku tidak dengan sengaja menyukai ketiga pria Skotlandia ini (Chris Martin dan Christian Bale kita “sisihkan” sejenak, okay?) lantaran udah tau asal mereka darimana. (Begitu juga dengan 2 yang lain tadi. Aku tidak dengan sengaja menyukai mereka karena tau mereka berasal dari Inggris). Sebaliknya, aku justru tau negara asal mereka belakangan. Terakhir kali, setelah meng-googling data pribadi dan asal usul mereka karena penasaran.

Yang pertama, James McAvoy. Aku jatuh cinta pertama kali karena mendengar aksennya yang unik. Semacam British tapi tidak Inggris. Logat bicaranya sangat seksi, setidaknya bagiku. Lalu ku googling biodatanya dan menemukan fakta bahwa dia Scottish. Oh, okay. Pantas saja. But that’s okay. Aku menyimpan fakta itu dalam hati. Dan mengabaikannya.

Lalu Guy Berryman—yang teman-temanku mengira aku pasti sangat tergila-gila kepadanya sampai hari ini. (And yea it is! :D ). Aku jatuh cinta kepadanya karena “kedinginannya”. Dia sangat cool, dan mungkin yang paling cool diantara personil Coldplay yang lain. Dia ‘dingin’, tidak banyak bicara dan hanya memainkan tugasnya ketika di atas panggung. Things that made me crazy about him. Ketika ku googling lagi, ternyata dia juga orang Skotlandia. Wow! I’m surprised. Tapi aku masih mengganggapnya kebetulan. Yea, kebetulan saja.

And then, (I don’t think that this would be the last): Gerard Butler. Aku menyukainya… ahh, sebenarnya sudah sejak lama aku (mulai) jatuh cinta dengan pria ini. Ketika melihatnya pertama kali di film Tomb Raider: The Cradle of Life yang dibintangi Angelina Jolie, ia sudah menarik perhatianku. Lalu aku semakin tertarik lagi ketika melihatnya di 300 sebagai King Leonidas yang perkasa. Dan ketertarikan itu semakin jauh lagi ketika melihatnya di The Ugly Truth yang dibintanginya bersama Katherine Heigl… I was already been attracted with him. Tapi aku berusaha menyangkalnya waktu itu. I don’t know why. Dan sekarang, ketika melihatnya di Olympus Has Fallen… bang! I can’t bear any longer to not admitting it. Yes, I do fallin’ in love with this man. Totally.

my Gerard Butler!

my Gerard Butler!

Aku jatuh cinta pada ketangkasannya. Pada ke-laki-laki-annya. And all his. Dan aku baru saja akan mengibarkan bendera putih untuk mengatakan “dia adalah laki-laki Amerika pertama yang aku suka” ketika tiba-tiba sebuah judul kecil menarik sudut mataku ketika akan menyimpan fotonya di desktop: “Gerard Butler, a handsome Scottish from Olympus Has Fallen”. WHAT?! Secepat kilat aku pun menyambar mouse dan membuka tab baru untuk mencari tau. Meng-googling biodatanya dan menemukan, again and again and again ladies and gentlemen! He’s a Scottish! Holy gosh! Pantaslah kemarin dulu aku berusaha menyangkalnya padahal hatiku sudah memberi sinyal-sinyal tanda suka (halah!). I thought he was American. (But he’s not indeed. He’s a Scottish!)

Then, what is this? Apakah ini kebetulan… lagi? Yah, seperti tadi kubilang di awal. Ini terlalu berlebihan, lebay, kalau disebut “destiny” atau “fate”. Tapi juga terlalu absurd kalau disebut kebetulan. Lalu, apa ini? Aku tidak tau. Tolong beri tau aku.

Aku juga tidak tau kenapa hatiku akan selalu bergejolak dan darahku berdesir (haduh bahasanyaaa…) setiap kali “ketemu” orang Skotlandia meskipun aku tidak tau negara asal mereka sebelumnya. Apakah aku memang berjodoh dengan Scottish? Hahaha…. tidak tau. Kan kubilang tolong beri tau aku.

Menurut kalian, apa ini cuma sekedar kebetulan… lagi? :D

07 Maret 2013

HARI ini (katanya) adalah hari yang paling menentukan untuk Sumatera Utara, karena di hari inilah Pilkada—untuk menentukan Gubernur dan calon Wakil Gubernur Sumatera Utara—digelar.

Sebenarnya aku tidak ingin memilih. Yea, dari awal memang aku tidak berniat memilih. I’ve lost faith in these leader candidates. Tapi menjelang jam 12 tengah hari tadi, pacar adikku datang. Ia melihat jariku yang masih bersih, “Belum nyoblos, Lin?” tanyanya. Aku hanya tertawa.  “Hayuu lah, buruan! Sini aku antar ke TPS!” katanya bersemangat. Err, mungkin aku menyebutnya setengah memaksa karena ia terus menerus mendesakku untuk segera bergegas. Sekali lagi, aku tidak tertarik. Aku tau kepentingannya, ia mungkin memaksa karena merasa sayang suaraku terbuang sementara suara itu bisa dialokasikan untuk mendukung “bos”-nya, mantan pemimpin sebuah bank daerah di Sumatera Utara. Ahh, ya, dia bersemangat sekali sehingga aku dan adikku meledeknya dengan “julukan” A si Tim Sukses. Hahaha…. (Kalau aku saja “dipaksanya”, apalagi adikku? Makanya dia bela-belain datang ke rumah, untuk memastikan bahwa kami semua menggunakan hak pilih kami—untuk memilih seseorang yang dia “tekankan” untuk dipilih itu! Hahaha…)

Aku masih tidak bergerak dari kamar, sampai akhirnya dia berkata, “Ayolaaahh… Nanti dibeliin es krim pun!” Aha! Seperti anak kecil yang dijanjikan mainan baru aku pun langsung melompat dari tempat tidur dan tak sampai 5 menit, dengan diantar pacar adikku itu, kami sudah sampai di TPS terdekat dan tidak sampai 5 menit berikutnya jariku sudah tercelup tinta—tanda sudah mencoblos. Jadi, motivasiku untuk memilih itu gara-gara dijanjikan bakal dibeliin es krim? Hahaha…. tidak juga sih. Di sisi lain, setelah mendengar pendapat teman-teman lain selama beberapa minggu lalu yang mereka garis-bawahi dengan hashtag #BukanKampanye, si calon pemimpin yang akhirnya aku pilih ini memang memiliki kinerja bagus. Katanyaa…. Yah, semoga saja. Jadi, setidaknya dengan memilih dia, dan sambil menanamkan harapanku sekiranya dia menang, semoga Sumatera Utara memang bisa menuju arah yang lebih baik.

Setelah balik ke rumah, dan kembali ke kamarku dalam waktu yang tak lebih dari 10 menit aku melihat burung pipit bertengger dan bermain di atas kanopi atap bawah, dari jendela kamar. Sepintas aku merasa betapa “enaknya” jadi burung pipit itu. Mereka tak perlu dipusingkan oleh politik dan keharusan untuk memilih. Mereka bisa hidup dan bebas sebebas yang mereka mau.

Dan sepintas yang lain aku teringat sekelebat hal ganjil yang terjadi ketika aku mengambil undangan pemilih dari rumah bibiku beberapa saat lalu. Dalam satu keluarga, tidak semuanya memiliki surat undangan memilih. Artinya, ada beberapa nama yang seharusnya memilih “hilang” dan tidak tau mengalir kemana. APAKAH?!

Itulah salah satu yang membuatku membenci sistem sekarang. Hal yang sama pernah terjadi ketika pemilihan pemimpin daerah di periode sebelumnya. Ada banyak sekali surat undangan pemilihan yang hilang entah kemana. Belum lagi birokrasi yang memperkeruh sistem pemilihan. Katanya, kalau ga dapet surat undangan, kita bisa bawa KTP saja ke TPS terdekat. T*ik kucing! Tadi aku coba tanya begitu, alih-alih langsung disuruh nyoblos, yang ada, si pembawa KTP malah disuruh datang ke kantor Lurah dulu, trus dari situ baru ditentuin… di TPS mana dia boleh mencoblos. I don’t know, apakah kalau dia benar-benar datang ke kantor Lurah bakal disuruh tanda-tangan anu-ono dan lapor ke sana-sono dulu juga. Cih! Boro-boro ke kantor Lurah, pemilihannya juga udah selese kali pak!

Di kantor aku mendengar, berdasarkan hasil quick count sementara, pemenangnya adalah Pengganti Gubernur yang sekarang—who is I dislike the most. Bukan karena provokasi orang lain, tapi karena aku “melihat” sendiri “hasil kerjanya selama ia menjabat. Temanku yang sang Penari Tradisional daerah pernah beberapa kali mendapat undangan untuk tampil memperkenalkan dan membawakan kesenian daerah keluar negeri, tapi selama beberapa kali itu juga dia harus membatalkan undangannya… lantaran tidak diberi ijin oleh si Pengganti Gubernur—dengan alasan tak diketahui. Aku tanya, “Kenapa? Kan bagus tampil membawa budaya daerah keluar negeri?” “Entahlah. Tanya saja si Pengganti Gubernur itu,” katanya.

Lalu, pagelaran Pesta Danau Toba selama 2 tahun terakhir ini, entahlah, aku tidak pernah mendengar gaungnya berbulan-bulan sebelum pesta pariwisata daerah itu diadakan. Yang akhirnya timbul adalah, “Oh, ada ya Pesta Danau Toba? Hahaha….” Sehingga jadilah pesta Danau Toba itu terkesan seperti ajang menghabiskan APBD. Beda ketika Pemimpin sebelumnya belum dijebloskan ke penjara. Minimal 3 bulan sebelumnya, kami (dan media) sudah tau kalau akan ada rencana pergelaran Pesta Danau Toba. Itu saja sudah ganjil, belum lagi, hal-hal lain yang mungkin aku tidak “lihat”…

Prediksiku, dia sudah menyisipkan antek-anteknya ke TPS-TPS untuk mempersiapkan suara-suara yang “hilang” itu untuk disalurkan ke pundi-pundinya, karena dia tau: dia tidak akan menang dengan pemilihan bersih mengingat banyak mantan “pegawainya” yang membencinya karena ia “berkhianat”. (Tentang ini, silakan selidiki sendiri. Hahaha….) Yah, mungkin saja. I don’t know. Hahaha….

Yang jelas, apapun yang terjadi hari ini, aku hanya berharap, semoga Tuhan tidak tidur dan membiarkan kecurangan itu terjadi. Aku hanya berharap, (semoga saja Ia mendengar), ada mukjijat terjadi sehingga segala kecurangan dan ketidak-adilan itu terbongkar dan… PEMIMPIN YANG BENAR-lah yang akhirnya muncul.

Tapi kalaupun tidak, yah…. siapa pun yang menang, (foto) ini untukmu:

Whoever wins, this is for you! #Sorry

Whoever wins, this is for you! #Sorry

For you, who will never read this.

Kita ga nyambung.

Elo suka yang feminin, gw suka yang maskulin.

Elo suka yang rapi, gw suka yang messy.

Elo cuma suka komik, gw suka banyak—bukan cuma komik.

Elo cuma suka satu jenis musik, gw suka banyak genre musik.

Elo suka di rumah, gw suka di luar.

Elo suka keramaian, gw suka kesendirian.

Elo suka bersosialisasi, gw anti sosial.

Elo suka dipuja (orang), gw ga suka memuja (orang).

Elo suka Yuna yang lembut, gw suka Lara Croft yang tangguh.

Elo suka basa-basi, gw suka blak-blakan.

Elo suka bohong demi kebaikan, gw suka jujur walopun menyakitkan.

Elo suka mengumbar janji untuk nyenangin (hati) orang, gw ga suka berjanji kalo belum yakin bisa memenuhinnya.

Elo hidup di waktu siang, gw hidup di waktu malam.

Elo (mungkin) sempat suka sama gw (walopun ga mau ngaku), dan gw… gw ga tau kenapa (masih) suka segala ketidaknyambungan ini walopun gw tau gw paling ga suka segala sesuatu yg tidak nyambung!

Because losing, uhh… *taking a deep breath*, isn’t always painful.

Sulit menerima kekalahan kalau kita udah terbiasa menang. Yah, tapi, hidup memang tentang menang dan kalah kan? Ada yang menang… ada yang kalah…

Yah, itu adalah quote yang (tiba-tiba) kuciptakan sendiri, hari ini. Setelah melihat namaku tidak tercantum di list para pemenang sebuah kompetisi yang aku ikuti beberapa bulan lalu. Sedih, kecewa. Yah semuanya.

Aku tidak terbiasa kalah. Sejak dulu, sejak pertama kali duduk di bangku sekolah, aku sudah terbiasa berkompetisi dan terbiasa menang di hampir semua kompetisi itu—meskipun tidak selalu berada di peringkat pertama, tapi setidaknya namaku selalu ada di daftar para pemenang. Daftar para juara. Jadi, yah, aku memang tidak terbiasa kalah.

Tapi hari ini adalah momen kedua dimana aku tidak menemukan nama dan karyaku tertera di sebuah kompetisi “agak bergengsi”. Momen pertama, ahh, I really don’t care about it, karena kompetisi itu diadakan oleh seorang amatir, bukan penulis profesional, yang setelah kuperhatikan tulisan orang-orang yang ia “menangkan” justru… err, biasa saja. Pun setelah pengumuman, janji yang ia berikan kepada para pemenang bahwa hasil tulisan mereka akan dikumpulkan dan dijadikan buku ternyata tidak terealisasi sampai sekarang. Aku juga tidak tau sudah bagaimana kabar tulisan-tulisan itu sekarang. Apakah teronggok begitu saja di perpustakaan email si pembuat kompetisi atau terbengkalai begitu saja tanpa memiliki kesempatan untuk terbit-terbit… Hahaha… Sudahlah. Kan sudah kubilang aku tidak peduli dengan itu.

Okay, sekarang kembali ke topik. Kekecewaanku, entah kenapa, terasa agak dalem karena kompetisi itu diadakan oleh sebuah perusahaan cukup terkenal di Indonesia… ahh, tapi aku tidak peduli dengan itu. Aku hanya peduli pada hadiahnya! Lumayan buat menambah pundi-pundi. :D

(Sekali lagi). Kecewa, sedih, bercampur jadi satu. Kenapa aku tidak menang? Kenapa namaku tidak ada? Padahal aku sudah mengerjakan karya untuk kompetisi itu dengan sepenuh hati—di tengah kerjaan dan tugas yang tak pernah berhenti menggenjot ku setiap hari. :’(

Tapi… yah, barangkali giliranku untuk ‘mengalah’ kali ini. Barangkali aku juga perlu mencicipi kekalahan biar tau bagaimana rasanya ‘terpuruk’ dan tidak selalu “congkak” dengan kemenangan… kemenangan… dan kemenangan. Barangkali, aku juga perlu belajar dari kekalahan hari ini supaya menang di hari esok. Yah, barangkali. Life… will always about win and lose, won’t it?